KALTIMPOST.ID, KUKAR – Perubahan cara bertani mulai dirasakan petani di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara. Dari yang sebelumnya mengandalkan metode manual dengan hasil terbatas, kini produktivitas padi mulai menunjukkan peningkatan seiring masuknya teknologi pertanian.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan Mandiri) Anggana Lasman menyebut, sebelum adanya mekanisasi, hasil panen padi di wilayahnya relatif rendah. Dalam satu hektare lahan, produksi hanya berkisar antara 2,5 hingga 3 ton. “Sebelumnya kita masih manual. Produktivitas padi kita sangat minim, kadang-kadang 2,5 ton sampai 3 ton,” ujarnya.
Gapoktan Mandiri mengelola total lahan sekitar 185 hektare yang tergabung dalam sembilan kelompok tani (poktan). Seiring masuknya berbagai inovasi dan mekanisasi pertanian utamanya setahun terakhir, produktivitas mulai meningkat signifikan.
“Setelah ada mekanisasi dengan metode-metode inovasi yang baru, sekarang produktivitas kami sudah bisa mencapai 5,5 ton per hektare,” katanya.
Dia menyebut peningkatan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan Bank Indonesia Kaltim yang mendorong modernisasi pertanian di tingkat petani.
Salah satu bantuan yang dirasakan langsung manfaatnya adalah penggunaan drone sprayer agriculture (DSA) untuk penyemprotan pestisida. Teknologi tersebut dinilai mampu memangkas waktu kerja sekaligus meningkatkan efisiensi biaya. “Dulu kita nyemprot satu hektare bisa satu hari. Sekarang pakai drone paling 5 sampai 10 menit sudah selesai,” jelasnya.
Selain menghemat waktu, penggunaan drone juga dinilai lebih efisien dalam penggunaan bahan seperti insektisida, pestisida, maupun fungisida. “Anggaran dan penggunaan obat bisa lebih efisien dibandingkan cara manual,” tambahnya.
Dia optimistis, dengan pendampingan dan inovasi yang terus berlanjut, produktivitas padi di wilayahnya masih berpeluang meningkat lebih tinggi, seperti yang terjadi di daerah lain. “Mudah-mudahan dengan adanya demplot ini bisa meningkatkan produksi kita lebih banyak lagi seperti di daerah lain,” ujarnya.
Baca Juga: Jurnalis Samarinda Diintimidasi Saat Aksi '214', Polda Kaltim: Silakan Lapor, Kami Proses Hukum!
Meski demikian, sejumlah kendala masih dihadapi petani di lapangan, salah satunya serangan hama yang dikenal dengan istilah “belok” atau sundep, yakni ulat yang menyerang bagian dalam tanaman padi. “Kendala sekarang itu hama, ulat di dalam batang. Jadi gabahnya itu kopong, kosong. Apalagi curah hujan tinggi,” ungkapnya.
Kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian hama. Penyemprotan pestisida sering kali tidak efektif karena hujan turun tidak lama setelah aplikasi dilakukan. “Kita nyemprot, eh dua jam kemudian hujan, jadi pestisida tidak efektif,” jelasnya.
Karena itu, petani berharap pelatihan dan inovasi yang diberikan ke depan dapat membantu menemukan metode yang lebih efektif dalam pengendalian hama, terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo