KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Badai ekonomi global kini tak lagi sekadar kabar di layar televisi, namun mulai mendarat nyata di perairan Kota Minyak. Aktivitas kapal luar negeri di pelabuhan Balikpapan mengalami kontraksi hebat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan drastis yang menjadi alarm bagi stabilitas perdagangan internasional di Kalimantan Timur.
Berdasarkan data Februari 2026, jumlah kunjungan kapal asing hanya tercatat sebanyak 6 unit. Meski angka ini naik tipis dibanding Januari 2026 yang hanya 5 unit, namun jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year), terjadi kejatuhan yang mengerikan hingga 86,05 persen.
Kepala BPS Balikpapan, Marinda Dama Prianto, menyebut penurunan ini tidak hanya terjadi pada kuantitas kapal, melainkan juga pada kapasitas angkutnya. Total Gross Register Tonnage (GRT) anjlok hingga 98,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan kuat dari faktor eksternal. Mulai dari perlambatan ekonomi global hingga dinamika geopolitik yang belum stabil,” ungkap Marinda.
Lemahnya permintaan ekspor dunia serta gangguan rantai pasok global membuat biaya logistik membengkak. Hal ini memaksa kapal-kapal asing mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke pelabuhan-pelabuhan satelit di daerah, termasuk Balikpapan. Efek dominonya pun mulai dirasakan oleh para pelaku usaha lokal.
Sektor industri yang bergantung pada pasokan bahan baku impor maupun pengiriman ekspor mulai mengeluhkan keterbatasan ruang distribusi. Jika tak segera diantisipasi, kondisi ini berpotensi mengganggu ritme produksi di Kaltim.
“Balikpapan adalah simpul logistik utama di Kalimantan. Ketika arus barang dunia melambat, pelabuhan di daerah otomatis ikut terdampak. Ini efek domino yang sulit dihindari,” tambah Marinda.
Baca Juga: Jaga Stabilitas Harga dan Tekan Inflasi, Distapang Paser Gelar Gerakan Pangan Murah Kolaboratif
Situasi ini menjadi peringatan keras bagi perekonomian daerah untuk segera melakukan diversifikasi pasar dan memperkuat jaringan distribusi domestik. Efisiensi logistik harus ditingkatkan agar ketergantungan pada pasar global tidak menjadi lubang hitam yang menekan pertumbuhan industri dan perdagangan di Bumi Etam. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo