KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Transformasi perilaku finansial masyarakat mulai terlihat nyata dalam layanan perbankan syariah. Bank Syariah Indonesia (BSI) membaca adanya perubahan signifikan dari pola konsumsi jangka pendek menuju orientasi investasi jangka panjang, khususnya melalui penguatan produk gadai dan cicil emas.
Jika selama ini gadai kerap diasosiasikan dengan kebutuhan mendesak, BSI justru mendorong redefinisi fungsi layanan tersebut. Melalui unit pawning, istilah internal untuk layanan gadai BSI mengembangkan pendekatan yang lebih produktif dan terintegrasi dengan perencanaan keuangan nasabah.
Alfred, Pawning Sales Officer BSI KCP Soekarno-Hatta Balikpapan, menjelaskan bahwa saat ini layanan gadai tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem finansial yang lebih luas. “Pawning di BSI tidak hanya soal gadai, tapi bagaimana transaksi itu bisa menjadi bagian dari perencanaan keuangan. Kami juga dorong ke cicil emas, sehingga ada kesinambungan,” bebernya.
Baca Juga: Energi Positif Hari Kekayaan Intelektual Sedunia! Jalan Santai Kanwil Kaltim Disambut Antusias
Pendekatan ini mencerminkan strategi BSI dalam menangkap arah baru konsumsi finansial masyarakat. Produk cicil emas hadir sebagai jembatan antara kebutuhan likuiditas jangka pendek dan tujuan investasi jangka panjang. Nasabah tidak hanya mendapatkan solusi atas kebutuhan dana cepat, tetapi juga diarahkan untuk membangun aset yang bernilai.
Data internal BSI menunjukkan tren yang cukup menarik. Dari total sekitar 1.400 nasabah di unit tersebut, lebih dari separuh kini merupakan pengguna produk cicil emas. Angka ini bahkan melampaui jumlah pengguna layanan gadai, yang selama ini menjadi produk dominan dalam layanan pawning.
Fenomena ini menandakan adanya pergeseran pola pikir masyarakat dalam mengelola keuangan. Alih-alih hanya mencari solusi instan, nasabah mulai memanfaatkan instrumen keuangan syariah untuk tujuan yang lebih strategis, seperti investasi dan perlindungan nilai aset.
Selain itu, transformasi layanan ini juga didukung oleh digitalisasi. Melalui aplikasi BYOND, nasabah dapat memantau portofolio dan mengelola transaksi secara real time. Kehadiran platform digital ini memperkuat aksesibilitas layanan sekaligus meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat.
“Kalau dulu gadai itu identik dengan kebutuhan mendesak, sekarang kami lihat banyak yang masuk ke cicil emas untuk investasi,” tambah Alfred.
Dengan strategi ini, BSI tidak hanya memperluas fungsi produk syariah, tetapi juga berupaya membentuk ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
"Transformasi dari gadai ke cicil emas menjadi indikator bahwa sektor perbankan syariah semakin adaptif dalam menjawab dinamika kebutuhan finansial masyarakat modern," tandasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo