KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kinerja inflasi Kalimantan Timur sepanjang 2025 terbilang terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Kaltim berada di angka 2,68 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen.
Selain itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim tercatat 109,80, sedikit di bawah nasional yang berada di level 109,92. Menunjukkan bahwa tekanan harga di Kaltim relatif lebih stabil dibandingkan rata-rata nasional. Meski demikian, inflasi tetap menjadi indikator penting dalam melihat kondisi ekonomi masyarakat.
"Inflasi mencerminkan gejala meningkatnya harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga secara umum dalam suatu periode waktu," beber Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai, Senin (27/4).
Baca Juga: Dari Makanan hingga Jasa, Ini Penyumbang Inflasi Kaltim
Artinya, setiap kenaikan inflasi langsung berkaitan dengan meningkatnya biaya hidup yang dirasakan masyarakat. Jika tidak terkendali, dampaknya bisa meluas.
"Inflasi yang tinggi dapat menimbulkan berbagai tekanan dalam perekonomian, salah satunya adalah terganggunya laju pertumbuhan ekonomi," ujar Mas’ud mengingatkan.
Lebih jauh, inflasi juga berpotensi menekan kelompok rentan. Dalam jangka panjang, daya beli masyarakat bisa menurun jika harga terus meningkat. Oleh sebab itu, stabilitas inflasi menjadi target penting pemerintah. Dengan inflasi yang berada di level 2,68 persen, Kaltim dinilai masih dalam kondisi relatif aman, sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo