KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Selain Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 146,48 pada 2025, indikator lain yang tak kalah penting dalam membaca kondisi ekonomi petani adalah Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP).
Indikator tersebut memberikan gambaran lebih spesifik tentang keuntungan usaha tani, karena hanya membandingkan antara pendapatan dari hasil produksi dengan biaya produksi.
Dijelaskan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai bahwa indikator tersebut berbeda dari NTP yang juga memasukkan komponen konsumsi rumah tangga. “NTUP adalah angka perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani untuk keperluan proses produksi pertanian,” ujarnya.
Baca Juga: Kabar Baik dari Desa: Rasio NTP Meningkat, Petani Kaltim Masih Kantongi Untung di Tengah Inflasi
Sepanjang 2025, kondisi NTUP menunjukkan tren yang sejalan dengan NTP. Hal tersebut tidak lepas dari kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) yang mencapai 180,22, jauh lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) 123,03.
Kondisi tersebut menandakan bahwa secara umum pendapatan dari hasil produksi pertanian masih mampu menutupi biaya produksi, bahkan memberikan margin keuntungan.
Dalam komponen biaya produksi, yang dihitung dalam kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM), kenaikan terjadi tetapi relatif lebih terkendali dibandingkan kenaikan harga output.
Mas’ud menegaskan bahwa indikator itu penting untuk melihat efisiensi usaha tani secara lebih akurat. “NTUP mencakup biaya produksi dan penambahan barang modal,” sebutnya.
Dengan selisih yang cukup lebar antara It dan Ib, kondisi usaha tani di Kaltim sepanjang 2025 masih berada dalam posisi yang menguntungkan. Namun demikian, tekanan biaya tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai, terutama jika ke depan kenaikan Ib mulai melampaui It.
Oleh sebab itu, NTUP menjadi indikator penting untuk memastikan bahwa peningkatan pendapatan petani benar-benar berasal dari aktivitas usaha yang efisien, bukan sekadar terdorong kenaikan harga semata. (riz)
Editor : Muhammad Rizki