KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ketergantungan tinggi terhadap sektor pertambangan mulai menunjukkan sisi rentannya bagi perekonomian Kalimantan Timur. Sedikit saja perubahan pada sektor tersebut, dampaknya langsung terasa hingga ke tingkat masyarakat.
Pengamat ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulawarman (Unmul) Hairul Anwar menilai struktur ekonomi Kaltim masih sangat bergantung pada batu bara, meski kontribusinya secara persentase mulai menurun. “Kontribusi terhadap perekonomian Kaltim itu sekitar 35 sampai 37 persen,” ujarnya.
Namun, secara nominal, nilai yang dihasilkan tetap besar sehingga menjadikan sektor itu sebagai penopang utama ekonomi daerah. “Kalau realisasi rupiah itu besar, makanya (pertumbuhan ekonomi) Kaltim ini paling tinggi secara regional Kalimantan,” katanya.
Dia menyoroti kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Hal tersebut tercermin dari data PDRB per kapita yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. “Data kita lima tahun terakhir PDRB per kapita cuma naik itu hanya pada 2022 saja, selanjutnya sampai 2025 turun,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan pada sisi permintaan dalam perekonomian daerah. “Artinya secara bisnis Kaltim bermasalah dengan demand atau permintaan,” ujarnya.
Di sisi lain, sektor-sektor di luar pertambangan sebenarnya menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Namun, kontribusinya terhadap ekonomi masih relatif kecil. “Sektor lain tumbuh cukup pesat, bahkan dua digit, tapi kontribusinya kecil,” katanya.
Dia menegaskan, menggeser struktur ekonomi dari pertambangan ke sektor lain bukan perkara mudah. “Menggeser basis perekonomian yang sudah kuat itu tidak gampang dan butuh waktu sangat lama,” sebutnya.
Dengan karakter industri tambang yang padat modal dan berpenghasilan besar, masyarakat cenderung tetap bergantung pada sektor tersebut. “Industri ini spesifik, susah untuk move on karena dari sisi pendapatan itu uang besar,” tambahnya.
Baca Juga: Terungkap! Pola Kredit Kaltim Dikuasai Rumah Tangga, Tapi Tambang Tetap Raja
Karena itu, dia mengingatkan pentingnya kesiapan masyarakat dalam mengelola keuangan, terutama menghadapi potensi gejolak seperti PHK. “Harus bisa mengelola keuangan mikro atau rumah tangga untuk jaga-jaga kalau ada masalah di perusahaan,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo