Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kemandirian Pangan dari Balik Pesantren: Ikhtiar Santri Kaltim Menopang Ekonomi Syariah

Raden Roro Mira Budi Asih • Senin, 4 Mei 2026 | 17:19 WIB
BEKAL: Ketertarikan Alfan pada dunia peternakan begitu tinggi. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk terlibat langsung di Pondok Farm. Bekal untuk mengembangkan usaha serupa di desanya setelah lulus.
BEKAL: Ketertarikan Alfan pada dunia peternakan begitu tinggi. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk terlibat langsung di Pondok Farm. Bekal untuk mengembangkan usaha serupa di desanya setelah lulus.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Proses belajar tak selalu berlangsung di depan papan tulis. Di pesantren, ada ruang-ruang lain tempat santri belajar memahami arti tanggung jawab, termasuk bagaimana berdiri secara mandiri dalam kehidupan, bahkan dalam hal ekonomi.

Suara embik begitu riuh di dalam kandang. Di antara puluhan domba, satu ekor tampak tak bergerak seperti biasanya. Muhammad Alfan Setiawan langsung menghentikan pekerjaannya. Sehari sebelumnya, domba itu masih aktif mendekat saat dia datang pagi hari. “Kayaknya kemarin baik-baik aja, kok tiba-tiba sakit. Saya langsung kepikiran, ini kenapa ya? Makannya salah atau gimana?" ujarnya.

Beruntung domba tersebut tak mengalami sakit serius. Dia dengan telaten merawat hingga sembuh. Bagi santri kelas XI Istiqamah Muhammadiyah Boarding School (IMBS) Kalimantan Timur itu, situasi tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar yang dipilih sendiri.

Baca Juga: Tak Diizinkan Zoom, Nadiem Tetap Hadir Sidang Meski Infus Terpasang di Tangan

“Dari kelas X saya inisiatif sendiri, dari pondok enggak ada nyuruh atau maksa. Jadi minat sendiri,” kata santri asal Separi, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara tersebut. Setiap pagi selepas halaqah (kajian), sebelum bel sekolah berbunyi, Alfan sudah lebih dulu berada di kandang.

Bersama lima temannya yang piket kala itu, dia membuka kandang, membersihkan lantai, hingga mencacah rumput untuk pakan. Rutinitas yang tak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga kemandirian dan konsistensi.

Di sana, Alfan bersentuhan langsung dengan praktik ekonomi riil sejak dini, sesuatu yang tak semua remaja seusianya miliki. Bekal yang ingin dia lanjutkan setelah lulus dengan mengembangkan usaha peternakan di desanya.

POTENSI: Wakafa Green House yang dibangun tahun lalu kini produktif dengan 4 kilogram cabai perminggu. Serapan dan permintaan pasar sangat tinggi.
POTENSI: Wakafa Green House yang dibangun tahun lalu kini produktif dengan 4 kilogram cabai perminggu. Serapan dan permintaan pasar sangat tinggi.

RUANG BELAJAR NYATA

Di balik rutinitas sederhana itu, ada sistem yang perlahan dibangun. Kandang domba bukan sekadar tempat beternak, tetapi bagian dari desain besar kemandirian ekonomi IMBS Kaltim. Perjalanan panjang sejak 1987 sebagai lembaga pendidikan melahirkan kesadaran baru, bahwa pesantren tidak cukup hanya mencetak lulusan, tetapi juga harus mampu berdiri secara ekonomi.

Langkah itu mulai nyata ketika lahan di kawasan Kampus B Jalan Batu Besaung, Sempaja Utara, Samarinda dibeli pada 2018. Lahan yang semula kosong perlahan berubah. Pembangunan dimulai pada 2020, hingga pada 2023 arah pengembangan mulai difokuskan pada satu hal yaitu kemandirian, terutama di sektor pangan.

“Total santri kami sekitar 500 orang. Kalau mengandalkan semua (pangan) dari luar, lumayan juga,” ujar Kepala SMA Istiqamah Muhammadiyah (SMAIM), Arip Saripudin. Di sanalah konsep itu tumbuh. Bukan sekadar bisnis, tetapi juga nilai ta’awun. “Jadi yang berkecukupan membantu yang kurang,” bebernya. Pesantren menurutnya bukan hanya ruang belajar, tetapi juga ruang pemberdayaan.

Salah satu yang berkembang paling cepat adalah Pondok Farm dengan ternak domba. Modal awal 10 ekor domba pada 2023, jumlahnya bertambah menjadi 35 ekor dengan cepat, bahkan terus berkembang lewat dukungan masyarakat dan wali santri dalam beberapa bulan.

“Dari masyarakat sekitar bahkan wali santri itu ada yang menitipkan satu sampai dua domba. Jadi perlahan berkembang. Fokus kami memang di breeding (pengembangbiakan),” ujarnya ditemui Senin (27/4).

Di kandang, aktivitas tak pernah benar-benar berhenti. Domba beranak pinak, santri hilir mudik membawa pakan, sementara itu pesantren juga mengembangkan sektor lain. Dari kolam berisi ikan mas, nila dan patin, hingga peternakan entok yang kini mencapai puluhan ekor. Semua terhubung dalam satu ekosistem bernama IM Agro. Fokusnya adalah memenuhi kebutuhan dapur.

Baca Juga: Pelecehan di Ponpes Pati Ndolo Kusumo: Pendiri Cium Wajah dan Bibir Puluhan Santriwati Berdalih Ajaran

Di bagian lain, tepat sebelah kanan dari gerbang masuk pondok, deretan tanaman di dalam Wakafa Green House tampak rapi. Pakcoy, selada, hingga cabai tumbuh rimbun dengan sinar matahari yang cukup.

“Ini adalah green house ekosistem pangan halal bantuan dari Bank Indonesia (BI) Kaltim sejak tahun lalu. Pendampingannya luar biasa. Sampai saat ini rutin monitoring dan evaluasi,” ujar Arip sambil menunjuk deretan pohon cabai. Buahnya mulai memerah, tanda panen tak lama lagi.

Dari 200 pohon cabai saja, Arip menyebut panen bisa mencapai 3-4 kilogram per minggu. "Jika dimaksimalkan hingga 1.000 pohon, potensi produksinya bisa mencapai 1,7 ton dalam satu musim, dengan omzet hingga Rp120 juta kalau per kilogram asumsi harganya Rp70 ribu. Kalau panen, pasarnya pasti rebutan. Apalagi kita menanamnya metode hidroponik, jadi lebih premium," seru Arip.

Baca Juga: Bupati Kutim Soroti Larangan Guru Non-ASN 2027, Cari Solusi agar Tetap Mengajar

Data Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim menyebut jika kebutuhan cabai rawit Kaltim bisa mencapai 1.300 ton sebulan. Potensi kemandirian ekonomi dari pesantren pun terbuka lebar.

Namun pada akhirnya, semua bermuara pada satu pertanyaan. Seberapa jauh IMBS bisa mandiri? Setiap bulan, kebutuhan pangan ratusan santri menembus angka Rp50 juta, atau Rp600 juta dalam setahun.

Angka yang tak kecil untuk sebuah lembaga pendidikan, menjadi beban yang perlahan coba dikurangi dari dalam. Sementara itu, diakui Arip bahwa unit usaha yang mulai dibangun tiga tahun terakhir baru mampu menutup 10 persen kebutuhan. Selebihnya, masih bertumpu pada sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dan donatur.

Di antara berbagai lini usaha, peternakan domba disebutkan Arip menjadi yang paling menjanjikan karena modelnya sudah dia dalami sejak 2018. Bukan tanpa alasan. Siklusnya jelas, pasarnya ada. “Setahun minimal satu kali beranak dan bisa dipanen usia 8-9 bulan,” ujar Arip.

Dari situ, hitungan sederhana mulai disusun. Dengan harga jual Rp3 juta per ekor, jika 100 domba bisa dijual dalam setahun, potensi pendapatan mencapai Rp300 juta. Separuh jalan menuju kemandirian pangan mulai terlihat.

"Operasional untuk pangan di sini bisa mencapai 50-60 persen dari total pengeluaran pondok. Jika dari pangan saja sudah bisa tercukupi lewat usaha mandiri, bukan tidak mungkin kami bisa lebih banyak memberdayakan," sebutnya.

Perkembangannya pun tak main-main. Populasinya naik delapan kali lipat dari 2023, kini menyentuh 80 ekor. Termasuk tambahan 30 ekor domba bantuan BI dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kaltim tahun lalu. Target berikutnya, populasi mencapai 200 ekor. Ada enam pengelola yang merupakan warga sekitar pesantren yang turut menggerakkan usaha. Model kecil yang mempertemukan pendidikan, ekonomi dan pemberdayaan dalam satu ruang yang sama.

Baca Juga: Atasi Antrean Panjang, Pertamina Pastikan 2 SPBU di Balikpapan Operasional 24 Jam

Jika target itu tercapai, dampaknya tak berhenti di kandang. Penambahan populasi berarti membuka lebih banyak ruang kerja bagi masyarakat sekitar. Kandang ketiga sedang dirancang, kapasitas bertambah seiring kelahiran domba baru, dan perputaran usaha dipercepat.

Target jangka menengahnya jelas, yakni pada 2027, setidaknya 50 persen kebutuhan pangan santri bisa ditopang dari unit usaha sendiri. Sisanya akan dikejar seiring peningkatan populasi dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Termasuk pengembangan cabai yang saat ini modelnya perlahan dibangun.

Namun, jalan menuju kemandirian tidak selalu mulus. Tantangan datang dari berbagai sisi, mulai dari keterbatasan pakan berprotein untuk domba hingga kelembapan tinggi yang memicu penyakit. Belum lagi soal SDM. Oleh sebab itu, tidak semua santri dilibatkan. Hanya mereka yang memiliki minat, seperti Alfan, yang diberi ruang untuk terjun langsung. “Anak-anak muda yang mau terjun ke dunia bisnis ini yang kita siapkan. Membangun mentalnya,” tegas Arip.

Ketua Umum FEPI & Ketua Hebitren Kaltim Badrus Syamsi.
Ketua Umum FEPI & Ketua Hebitren Kaltim Badrus Syamsi.

GERAKAN KEMANDIRIAN TUMBUH

Di tengah upaya yang perlahan tumbuh itu, dukungan dari luar ikut menguatkan arah yang sedang dibangun. BI Kaltim melihat pesantren sebagai bagian penting dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di daerah. Pendekatannya tidak berhenti pada bantuan semata, tetapi bagaimana unit usaha yang dirintis mampu tumbuh dan berkelanjutan.

“Penguatan kemandirian ekonomi pesantren dilakukan melalui pengembangan unit usaha produktif. Selain itu, juga dilakukan pembentukan ekosistem pangan pondok pesantren serta capacity building kepada pengelola pondok pesantren," beber Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Bayuadi Hardiyanto. Pendekatan itu menjadi upaya agar kemandirian yang dibangun tidak sekadar dimulai, tetapi terus berjalan dan berkembang dalam jangka panjang.

Saat ini, terdata 15 pondok pesantren yang menjadi bagian dari penguatan BI Kaltim terhadap ekonomi syariah. Tersebar di wilayah kerja meliputi Samarinda, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu dan Berau.

Apa yang tumbuh di IMBS bukan fenomena tunggal. Di banyak pesantren, geliat serupa mulai terlihat meski dengan skala dan bentuk yang berbeda. Ketua Umum Forum Ekonomi Pesantren Indonesia (FEPI) sekaligus Ketua Umum Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren) Kaltim, Badrus Syamsi, melihat perubahan itu sebagai bagian dari momentum besar.

“Negara sudah sangat hadir, semenjak lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang pesantren,” ujarnya. Sejak 2021, sekitar 3.500 pesantren di Indonesia telah mendapat bantuan inkubasi bisnis dari Kementerian Agama. Disebutkan Badrus, pesantren yang mulai benar-benar bergerak menuju kemandirian dengan berbagai unit usaha aktif di Bumi Etam jumlahnya mencapai 30.

Dukungan juga datang dari berbagai pihak. “BI salah satunya, melalui pembinaan pendampingannya saat ini banyak melakukan bantuan-bantuan terhadap pesantren. Di mana teman-teman di BI ini sering memberikan bantuan dalam bentuk modal usaha,” ujarnya.

Baca Juga: Genjot PAD di Tengah Tekanan Fiskal, Komisi B DPRD Bontang Soroti Kinerja DPMPTSP dan 14 OPD

Namun, dia menegaskan satu hal penting, yakni kemandirian tidak bisa dibeli hanya dengan modal. “Tidak serta-merta modal ini menjadi alasan utama bisnis itu pasti sukses,” katanya.

Tantangan terbesar justru terletak pada hal yang tak terlihat yakni mulai manajemen, SDM, hingga legalitas usaha. Banyak pesantren sudah memiliki unit usaha, tetapi masih sebatas memenuhi kebutuhan internal. “Jadi tinggal bagaimana mendorongnya untuk dikembangkan lebih luas,” ujarnya.

Di situlah peluang sebenarnya terbuka. Dengan puluhan ribu pesantren dan jutaan santri di Indonesia, Badrus mengatakan jika pasar sudah ada bahkan tanpa harus keluar jauh. “Pesantren ini sudah punya pangsa pasar kalau di internal, tinggal keluar saja,” kata Badrus.

Baca Juga: Lengkap! Daftar Pemain Timnas Indonesia U-17 di Piala Asia 2026 dan Peluang ke Piala Dunia

Di kandang sederhana itu, Alfan mungkin belum memikirkan soal ekosistem atau kebijakan. Tapi dari tangannya yang setiap pagi mencacah rumput, dari rutinitas yang dia jalani tanpa paksaan, satu hal mulai terbentuk. Kemandirian.

Pelan-pelan, pesantren tak lagi sekadar tempat belajar. Tumbuh menjadi ruang yang menyiapkan santri bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk hidup bahkan menghidupi. Dan mungkin, dari kandang kecil berisi puluhan domba itu, cerita besar tentang masa depan ekonomi pesantren sedang dimulai. (ndu)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kemandirian ekonomi pesantren #santri Kaltim #IMBS Samarinda #peternakan domba pesantren #ekonomi syariah pesantren