Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kunjungan Merosot Sejak Awal Tahun, Pedagang Pasar Inpres Balikpapan Menjerit

Ulil Mu'Awanah • Senin, 4 Mei 2026 | 17:51 WIB
DAYA BELI TURUN: Aktivitas di Pasar Inpres Balikpapan baru-baru ini. Sejak awal tahun, pedagang mengaku mengalami penurunan transaksi dan kunjungan. ULIL/KP
DAYA BELI TURUN: Aktivitas di Pasar Inpres Balikpapan baru-baru ini. Sejak awal tahun, pedagang mengaku mengalami penurunan transaksi dan kunjungan. ULIL/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Aktivitas perdagangan di Pasar Inpres Kebun Sayur, Balikpapan Barat, masih belum benar-benar pulih. Sejumlah pedagang mengaku kondisi pasar pada awal tahun ini masih jauh dari harapan, terutama karena jumlah pengunjung belum ramai seperti biasanya.

Bagi pedagang cenderamata dan perlengkapan kebutuhan tertentu, situasi sepi itu bahkan sudah terasa sejak periode puasa lalu, ketika transaksi justru merosot tajam dibandingkan hari-hari normal. Wati, pemilik Toko Purnama yang menjual cenderamata di kawasan pasar tersebut, menyebut kondisi pasar belakangan ini memang sedikit lebih baik dibandingkan saat puasa, tetapi belum bisa disebut pulih.

Menurutnya, pergerakan pembeli masih terbatas, kunjungan tamu-tamu rombongan juga tidak seramai dulu dan daya beli masyarakat masih tertekan oleh kondisi ekonomi yang serba hati-hati. Ia menggambarkan situasi itu sebagai masa resesi, karena pasar belum kembali hidup seperti tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Ternyata Begini Cara Jitu Dishub Samarinda Hadapi Pelajar Mucil, Kempiskan Ban Motor Pelajar Tanpa SIM

Dalam keseharian, Wati menuturkan omzetnya memang masih bisa bergerak, tetapi sangat fluktuatif. "Pada hari tertentu penjualan bisa mencapai jutaan rupiah, namun enggak jarang juga transaksi datang hanya dari pesanan borongan atau pelanggan setia," ungkapnya.

Ia menyebut masih ada pesanan dari sejumlah pelanggan besar, termasuk untuk kebutuhan suvenir acara dan pengiriman ke luar daerah, seperti Jakarta. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi pasar tetap berbeda dengan masa sebelum pelemahan ekonomi terasa begitu kuat.

Ia juga mengakui adanya penyesuaian harga akibat kenaikan biaya bahan baku. Namun, kenaikan itu menurutnya tidak terlalu besar, hanya sekitar 5 persen, sehingga pedagang masih berusaha menjaga agar harga tetap terjangkau pembeli.  “Kalau bahan-bahannya naik, dengan sendirinya kita juga naik,” ujarnya.

Produk yang masih bertahan dan dicari pembeli, kata Wati, bukan sekadar barang jadi, melainkan desain tas dan pesanan yang bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan pelanggan. Menurutnya, pembeli sering membawa barang lama untuk didesain ulang atau dibuatkan model baru. "Permintaan seperti ini masih datang dari pelanggan instansi maupun acara tertentu, sehingga usaha cenderamata tetap bergerak meski belum stabil," tuturnya.

Baca Juga: Demo Solar Balikpapan Berakhir Damai! DPRD dan Mahasiswa Teken Kesepakatan

Kondisi berbeda dialami pedagang perlengkapan safety, Hastuti, yang sudah sekitar satu tahun empat bulan berjualan di pasar Pasar Penampungan A. Ia menjual berbagai kebutuhan kerja, mulai dari sepatu hingga perlengkapan keselamatan dengan rentang harga yang cukup lebar, dari Rp 5 ribu hingga Rp 2 juta.

Namun, variasi harga itu tidak otomatis membuat barang lebih cepat laku. Justru dalam sepekan terakhir, ia mengaku hampir tidak ada pembeli yang datang. “Sepi nggak ada yang pembeli,” kata Hastuti.

Ia menjelaskan sebelum periode sepi ini, pembeli masih datang sesekali, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Bahkan, meski ada transaksi belanja sekitar Rp 300 ribu, pendapatan bersih yang ia terima hanya sekitar Rp 45 ribu setelah dipotong berbagai kebutuhan. Dari penghasilan itulah ia tetap harus memenuhi kebutuhan keluarga dan memastikan anak-anaknya bisa makan.

Sebagai ibu dari lima anak, Hastuti memikul beban ekonomi keluarga sekaligus menjadi tulang punggung rumah tangga. Di tengah penjualan yang seret, biaya operasional justru tetap berjalan, termasuk sewa dua petak kios yang mencapai Rp 700 ribu.

Tekanan ekonomi itu ikut dirasakan di lingkungan pedagang lain. Hastuti menyebut ada rekan sesama pedagang yang sampai menutup usaha salon karena terlilit utang dan tidak sanggup lagi membayar kewajiban. Baginya, saat ini bertahan jauh lebih penting daripada mengejar keuntungan.

Di sisi pengelolaan pasar, Pemerintah Kota Balikpapan melalui Plt UPTD Pasar Wilayah I Dinas Perdagangan Cicae menyampaikan bahwa digitalisasi retribusi tetap berjalan sebagai bagian dari pembenahan sistem pasar. Namun, penerapannya belum merata. Saat ini, sistem digital baru diterapkan di Pasar Inpres, sementara lainnya masih memakai pola manual.

Baca Juga: El Nino Godzilla 2026: Mengukur Risiko Inflasi Kaltim

Cicae menjelaskan, capaian retribusi yang terkumpul sejauh ini masih berada di angka sekitar 15 persen. Karena itu, penguatan sistem pengelolaan pasar dan pembinaan pedagang menjadi perhatian penting agar pasar tradisional tidak semakin tertinggal.

Pemerintah juga mendorong pedagang untuk mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku belanja masyarakat dan tekanan ekonomi yang sedang berlangsung. “Digitalisasi tetap kami dorong, tapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana pedagang bisa terus beradaptasi,” katanya.

Ia menambahkan, untuk membantu pedagang yang mengalami tunggakan atau penurunan omzet, skema cicilan retribusi turut disiapkan. Menurutnya, kebijakan ini penting agar pedagang tetap bisa berjualan sambil perlahan melunasi kewajiban. Dengan begitu, pasar tetap hidup dan masih ada pemasukan, meski dilakukan secara bertahap.

Baca Juga: Kemandirian Pangan dari Balik Pesantren: Ikhtiar Santri Kaltim Menopang Ekonomi Syariah

Kondisi Pasar Inpres Kebun Sayur memperlihatkan bahwa tantangan ekonomi tidak hanya soal angka penjualan, tetapi juga soal daya tahan para pelaku usaha kecil di lapangan. "Di tengah sepinya pembeli, kenaikan biaya, dan tekanan kebutuhan rumah tangga, jadi kita coba bantu ringankan agar mereka bisa nenyicil, bahkan yang tunggakan pun tetap ada dan masih berjualan," ucapnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#daya beli turun Balikpapan #pedagang sepi pembeli #pasar tradisional Kaltim #pasar inpres balikpapan #ekonomi Balikpapan