Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Inflasi Kaltim April 2026 Melandai setelah Lebaran, Ini Penyebabnya

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 5 Mei 2026 | 07:54 WIB
Kepala KPw BI Kaltim, Jajang Hermawan.
Kepala KPw BI Kaltim, Jajang Hermawan.

 
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Tekanan harga di Kalimantan Timur mulai mereda setelah momen Lebaran. Mobilitas masyarakat yang sebelumnya meningkat kini berangsur normal, diikuti penyesuaian harga sejumlah komoditas yang sempat melonjak selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Inflasi bulanan (month to month/mtm) pada April 2026 tercatat sebesar 0,11 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Maret yang mencapai 0,73 persen (mtm).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Jajang Hermawan, menyatakan kondisi tersebut mencerminkan mulai meredanya tekanan harga pasca Lebaran.

Baca Juga: Ini 3 Alasan Mualaf Center Indonesia Cabut Sertifikat Richard Lee

Menurut dia, inflasi April masih dipengaruhi kelompok transportasi. Kenaikan terjadi akibat penyesuaian harga pada komoditas pemeliharaan atau servis kendaraan, bensin, hingga tarif angkutan udara.

Kondisi ini tidak terlepas dari tingginya kebutuhan mobilitas selama arus mudik dan balik Lebaran.

“Tekanan inflasi April 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi, seiring penyesuaian harga pada komoditas pemeliharaan atau servis, bensin, dan tarif angkutan udara,” jelasnya.

Selain transportasi, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga turut memberi tekanan. Kenaikan harga gas LPG 3 kilogram menjadi salah satu pemicu utama yang berdampak pada pengeluaran rumah tangga.

Di sisi lain, terdapat faktor penahan inflasi dari kelompok pangan. Komponen volatile foods justru mengalami deflasi sebesar minus 0,47 persen (mtm).

“Deflasi pada komponen volatile foods mencerminkan mulai meredanya tekanan harga pangan pasca HBKN, seiring membaiknya pasokan dan normalisasi permintaan,” ujar Jajang.

Sejumlah komoditas seperti tomat, semangka, minyak goreng, bawang merah, hingga jasa servis kendaraan masih mendorong inflasi. Namun, harga daging ayam ras, cabai rawit, dan kacang panjang justru membantu menahan laju kenaikan.

Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi.

Baca Juga: Liga Champions: Arsenal Tantang Rekor Sempurna Atletico di Eropa

Salah satu langkah konkret adalah pelaksanaan lebih dari 200 kegiatan gerakan pangan murah atau operasi pasar hingga April 2026. Upaya ini dinilai efektif menjaga stabilitas harga sekaligus daya beli masyarakat.

Selain itu, koordinasi lintas instansi juga diperkuat, melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD), BUMD pangan, hingga pelaku usaha. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan tetap aman serta mengantisipasi potensi gangguan distribusi.

Dengan berbagai upaya tersebut, Jajang optimistis inflasi di Kalimantan Timur tetap berada dalam rentang sasaran, seiring normalisasi aktivitas ekonomi masyarakat pasca Lebaran. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#inflasi April 2026 #Inflasi Kaltim #transportasi #Bank Indonesia Kaltim #harga pangan