KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Unit usaha pesantren di Kalimantan Timur saat ini masih didominasi sektor sederhana seperti koperasi, minimarket, dan laundry. Meski begitu, peluang pengembangan ekonomi pesantren dinilai masih terbuka luas jika dikelola secara optimal.
Hampir seluruh pesantren di Kaltim telah memiliki unit usaha. Namun, sebagian besar masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan internal. “Hampir semua pesantren punya usaha, minimal koperasi atau kantin. Tapi belum semua bisa berkembang menjadi sumber kemandirian ekonomi,” ujar Ketua Umum Forum Ekonomi Pesantren Indonesia (FEPI) Badrus Syamsi.
Selain koperasi dan laundry, beberapa pesantren mulai mengembangkan sektor pertanian dan peternakan, terutama bagi yang memiliki lahan luas. Pengembangan tersebut disesuaikan dengan potensi dan sumber daya masing-masing pesantren.
Baca Juga: Waspada! Peredaran Narkoba di Kaltim Meningkat, Muncul Modus Baru Kemasan Logo Tikus
“Kalau punya lahan luas biasanya ke pertanian atau peternakan. Tapi kalau tidak, ya fokus ke usaha seperti minimarket atau laundry,” jelasnya.
Meski peluang besar, Badrus menyebut sejumlah tantangan masih dihadapi pesantren dalam mengembangkan usaha. Salah satu yang paling sering disampaikan adalah keterbatasan modal.
Namun, menurutnya, persoalan utama justru bukan pada modal. “Kalau ditanya, pasti jawabannya modal. Padahal tidak serta-merta modal itu menjamin usaha berhasil,” tegasnya.
Dia menilai tantangan terbesar terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM), manajemen usaha, serta minimnya pendampingan berkelanjutan. “Banyak yang dapat bantuan, tapi tidak didampingi. Akhirnya usaha berhenti di tengah jalan karena tidak tahu cara mengelolanya,” katanya.
Baca Juga: Jelang Lawan Persita, Fabio Lefundes Minta Borneo FC Fokus Penuh, Konsistensi Jadi Senjata
Selain itu, pesantren juga dinilai masih terlalu fokus pada pasar internal. Padahal, untuk berkembang, unit usaha harus mampu menjangkau pasar di luar lingkungan pesantren. “Pesantren ini punya pasar di dalam, tinggal bagaimana keluar. Kalau hanya mengandalkan santri, perputaran ekonominya terbatas,” ujarnya.
Badrus menambahkan, keterlibatan masyarakat sekitar juga menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan pesantren. Selain memperluas dampak ekonomi, hal tersebut juga memperkuat fungsi pemberdayaan masyarakat yang menjadi bagian dari peran pesantren.
Dengan pengelolaan yang lebih profesional dan dukungan berkelanjutan, dia optimistis pesantren di Kaltim mampu menjadi kekuatan ekonomi baru yang tidak hanya mandiri, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo