Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kabar Baik, Inflasi PPU Terendah di Kaltim di Tengah Kenaikan Harga

Ahmad Maki • Rabu, 6 Mei 2026 | 09:31 WIB

Kepala Bagian Perekonomian Setkab PPU Krisna Aditama. (AHMAD MAKI/KALTIM POST)
Kepala Bagian Perekonomian Setkab PPU Krisna Aditama. (AHMAD MAKI/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatatkan inflasi terendah di Kalimantan Timur pada April 2026. Data tersebut dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 4 Mei 2026.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah PPU, Krisna Aditama, menjelaskan bahwa inflasi bulanan (month-to-month/mtm) PPU pada Mei 2026 berada di angka 0,33 persen. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan Maret yang sempat mencapai 1,09 persen.

“Secara tahunan (year-on-year/yoy), dari April 2025 hingga April 2026, inflasi PPU berada di angka 2,10 persen,” ujar Krisna saat ditemui di ruangannya, Selasa (5/5/2026).

Ia menambahkan, capaian tersebut menempatkan Indeks Harga Konsumen (IHK) PPU sebagai yang paling stabil dibandingkan daerah lain di Kaltim. Sebagai perbandingan, inflasi Samarinda tercatat 2,92 persen, Balikpapan 2,19 persen, dan Berau 2,19 persen.

Baca Juga: Dua Bacalon Gugur, Kursi Ketua Kadin Kutim Kini Tinggal Satu Nama

Meski relatif terkendali, sejumlah komoditas tetap memberi andil terhadap inflasi. Di antaranya tomat sebesar 0,29 persen, semangka 0,11 persen, bakso siap santap (pentol) 0,08 persen, bawang merah 0,04 persen, serta minyak goreng 0,03 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru menyumbang deflasi. Daging ayam ras turun sebesar -0,14 persen, cabai rawit -0,09 persen, ikan tongkol -0,05 persen, terong -0,05 persen, dan kacang panjang -0,02 persen.

“Alhamdulillah, kami mendapat penilaian dari BPS bahwa penanganan inflasi di PPU menjadi yang terendah se-Kaltim,” katanya.

Menurut Krisna, capaian ini merupakan hasil sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Upaya tersebut meliputi pemantauan harga bahan pokok penting (bapokting), pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), serta operasi pasar secara berkala.

Ke depan, TPID bersama OPD akan terus menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target nasional sebesar 2,5±1 persen.

“Mudah-mudahan hingga delapan bulan ke depan, angka inflasi ini tetap terjaga, bahkan bisa lebih rendah,” imbuhnya.

Baca Juga: Polisi dan Warga Kompak Rehab Jembatan di Paser, Hasilnya Bikin Salut

Untuk menjaga ketersediaan pasokan, pemerintah daerah juga mendorong peningkatan produksi sejumlah komoditas, seperti padi, cabai rawit, dan tomat. Kebijakan tersebut dilakukan melalui berbagai gerakan, termasuk optimalisasi penanaman padi, gerakan tanam cabai dan tomat, serta pemanfaatan pekarangan pangan bergizi.

Selain itu, pemantauan dilakukan secara rutin di pasar tradisional, distributor, hingga toko swalayan. Koordinasi juga diperkuat dengan Bulog dan pelaku ritel guna memastikan ketersediaan stok bahan pangan.

Upaya lain mencakup monitoring distribusi BBM di SPBU, pengawasan penyaluran LPG 3 kilogram, hingga pelaksanaan pasar murah dengan dukungan lintas instansi. Termasuk bantuan transportasi dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan serta dukungan biaya dari Bank Indonesia.

Dalam hal komunikasi, TPID PPU juga aktif mengikuti rapat koordinasi inflasi bersama Kementerian Dalam Negeri setiap pekan. Selain itu, dilakukan pula penguatan kapasitas tim berdasarkan hasil early warning system (EWS).

Seluruh data pemantauan kemudian dilaporkan melalui aplikasi Was Inflasi yang terhubung dengan Inspektorat dan Kementerian Dalam Negeri.

“Hasilnya kami laporkan secara berkala sebagai bagian dari pengawasan pengendalian inflasi oleh pemerintah pusat,” pungkasnya. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#TPID PPU #inflasi PPU #IHK PPU #BPS April 2026 #Inflasi Kaltim