KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di sudut Jalan MT Haryono, Balikpapan, tepat di belakang Fit Hub dan Scako, tak ada papan besar yang mencolok. Tempatnya sederhana. Bahkan sekilas seperti warung biasa.
Tapi di sanalah Bambang Janu Isnoto membuka “ruang redaksi” barunya, bukan lagi menyusun berita melainkan membaca manusia lewat sepiring nasi pecel.
Tangannya kini lebih sering meracik sambal daripada memegang naskah. Namun naluri lamanya tak benar-benar pergi. Ia tetap mengamati. Mencatat. Membaca pola.
Puluhan tahun berkecimpung di dunia jurnalistik membentuk cara pandangnya. Ia pernah memimpin Kaltim Post Group, lalu dipercaya sebagai General Manager Jawa Pos Group yang mengawal banyak redaksi di Indonesia.
Karier yang bagi banyak orang sudah lebih dari cukup. Tapi bagi Bambang, itu bukan garis akhir. “Sejak awal saya memang sudah berpikir, nanti kalau tidak di jurnalistik, saya harus punya dunia lain yang harus saya tekuni,” ucapnya, pelan.
Dunia kedua itu ternyata tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Setelah sempat aktif sebagai lawyer, Bambang justru berlabuh di sesuatu yang lebih membumi: kuliner. Pilihannya jatuh pada nasi pecel Madiun, menu sederhana yang menurutnya punya daya jangkau luar biasa. “Nasi pecel itu bisa diterima semua lidah. Tidak hanya orang Jawa,” katanya.
Ia tak sedang menjual sekadar makanan. Di kepalanya, pecel adalah produk budaya. Bisa hadir di meja sarapan, makan siang, hingga makan malam. Bisa dinikmati pegawai kantoran, pekerja lapangan, sampai keluarga.
Cara berpikir itu terasa seperti refleks seorang jurnalis yang terbiasa membaca data sosial. “Di Balikpapan ini sekitar 42 persen warganya orang Jawa atau keturunan Jawa. Saya melihat potensi di situ,” ujarnya.
Baca Juga: Tiket Pesawat Mahal di Kaltim, Dipicu Geopolitik hingga Lonjakan Avtur
Namun Bambang paham, nostalgia saja tak cukup. Orang datang bukan hanya untuk mengenang, tapi juga mencari pengalaman baru. Di situlah ia mulai merancang konsep yang berbeda. Kuncinya satu: kebebasan.
Di warungnya, pelanggan tak sekadar memesan. Mereka meracik sendiri. Mau nasi sedikit atau banyak, sambal pedas atau tidak, lauk apa yang dipilih, semua ditentukan di depan meja penyajian. Ayam goreng, paru, telur asin, telur dadar, tahu, tempe tersusun rapi, siap dipilih. “Biar mereka nyaman. Bisa menyesuaikan dengan selera masing-masing,” katanya.
Bahkan sambalnya dibuat dua versi. Pedas dan ramah lidah. Tak ada paksaan rasa. Di tengah tren kuliner yang berlomba tampil cantik, Bambang justru mengambil arah berbeda. Ia lebih peduli pada rasa aman. Area makanan dibuat tertutup, meski tempatnya mengusung konsep semi-outdoor. “Bersih itu wajib. Enak saja tidak cukup,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi mengandung pengalaman panjang. Ia tahu, kepercayaan publik sering lahir dari hal-hal kecil yang kerap luput diperhatikan. Begitu juga soal harga.
Bambang tak ingin warungnya terasa jauh dari keseharian pelanggan. Lokasinya yang dikelilingi perkantoran membuat ia paham siapa yang akan datang. “Harga harus masuk akal. Saya tahu kantong mereka,” katanya.
Baca Juga: Penyebab Solar Langka di Balikpapan, DPRD Kaltim: 95 Persen Antrean Adalah Truk Perusahaan
Bagi Bambang, menjaga pelanggan agar terus kembali jauh lebih penting daripada sekadar mengejar untung cepat. Prinsip yang jarang diucapkan, tapi terasa dalam setiap keputusan kecilnya.
Warung itu rencananya buka dari pukul 10.00 hingga 21.00. Namun ia tak ingin tempat itu berhenti sebagai warung makan siang. Saat malam datang, suasana berubah. Lebih santai. Lebih cair. Menu pun bertambah, dari kentang goreng hingga sajian ringan lain. Ia ingin tempat itu mengikuti ritme kota.
Siang untuk yang butuh cepat dan praktis. Malam untuk yang ingin singgah lebih lama. Menariknya, perpindahan dari dunia media ke kuliner tak benar-benar memutus benang lama. Jika dulu Bambang membaca kebutuhan publik lewat berita, kini ia membacanya dari antrean, dari pilihan sambal, dari lauk yang paling cepat habis.
Bedanya, kini “headline” itu tak lagi tercetak di kertas. Ia tersaji hangat di atas piring. “Yang penting konsumen nyaman,” ucapnya singkat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo