
Mobilitas penumpang di bandara
KALTIMPOST.ID-Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Balikpapan pada April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat kelompok transportasi mengalami inflasi hingga 5,93 persen secara year-on-year.
Angka tersebut menurut Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama menjadi yang tertinggi dibanding kelompok pengeluaran lainnya.
Kondisi ini menunjukkan sektor transportasi masih menjadi tekanan utama bagi biaya hidup masyarakat Balikpapan.
Marinda menjelaskan inflasi transportasi dipengaruhi beberapa komoditas dan jasa, terutama angkutan udara serta bahan bakar.
“Kelompok transportasi memberikan andil inflasi year-on-year sebesar 0,78 persen. Komoditas yang dominan antara lain angkutan udara dan bensin,” sebutnya.
Balikpapan sebagai kota jasa, perdagangan, dan pintu gerbang Kalimantan Timur memiliki tingkat mobilitas yang tinggi.
Kebutuhan perjalanan dinas, bisnis, proyek industri, hingga aktivitas pemerintahan membuat permintaan transportasi tetap besar.
Tarif penerbangan menjadi salah satu komponen yang sensitif terhadap lonjakan permintaan. Pada periode tertentu, harga tiket pesawat mengalami kenaikan signifikan akibat tingginya mobilitas masyarakat.
Selain transportasi udara, kenaikan harga bensin juga memberi dampak berantai terhadap biaya distribusi barang. Pelaku usaha logistik mengaku biaya operasional kendaraan meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
“Kondisi tersebut ikut memengaruhi harga kebutuhan pokok di pasaran karena sebagian besar komoditas didatangkan dari luar Balikpapan,” ucapnya.
BPS mencatat meski secara bulanan terjadi deflasi, kelompok transportasi tetap mengalami tekanan inflasi tahunan yang tinggi. Artinya, biaya transportasi saat ini masih lebih mahal dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, aktivitas pembangunan dan investasi di Kaltim, termasuk kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), turut mendorong tingginya mobilitas manusia dan barang.
Balikpapan kini sedang menghadapi tantangan urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Ketika aktivitas ekonomi meningkat, kebutuhan transportasi ikut melonjak.
Namun kondisi tersebut juga menunjukkan ekonomi kota masih bergerak aktif. “Inflasi transportasi yang tinggi memang menjadi tekanan bagi masyarakat, tetapi di sisi lain mencerminkan aktivitas ekonomi yang masih hidup dan bergerak,” ujarnya.
Marinda menegaskan pengendalian inflasi transportasi memerlukan koordinasi berbagai pihak. “Stabilitas harga transportasi sangat dipengaruhi distribusi dan mobilitas. Karena itu koordinasi antarinstansi sangat penting agar tekanan inflasi tidak terus meningkat,” katanya. (rd)
Editor : Romdani.