KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Deflasi kota ini sebesar 0,05 persen secara bulanan pada April 2026. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga mulai melandai setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri.
Stabilnya pasokan pangan, distribusi yang kembali normal, serta penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi faktor utama yang menahan lonjakan harga di tengah pemulihan konsumsi masyarakat.
"Secara tahunan, inflasi Balikpapan berada di angka 2,19 persen, lebih rendah dibanding inflasi nasional sebesar 2,42 persen dan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 2,50 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen," ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.
Dirinya berujar, kondisi inflasi yang semakin terkendali menunjukkan efektivitas koordinasi pengendalian harga antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, hingga pelaku distribusi pangan.
“Mulai normalnya permintaan masyarakat pasca Idul Fitri, tetap terjaganya ketersediaan pasokan, serta konsistensi pengendalian inflasi daerah menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas harga,” ujarnya.
Deflasi terbesar di Balikpapan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil minus 0,10 persen. Komoditas penyumbang utama penurunan harga antara lain daging ayam ras, ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, serta bahan bakar rumah tangga.
Penurunan harga ayam ras dipicu meningkatnya pasokan ayam segar dari wilayah Balikpapan dan sekitarnya serta masuknya stok ayam beku dari Pulau Jawa. Sementara itu, hasil tangkapan nelayan yang meningkat akibat cuaca kondusif membuat harga ikan layang ikut turun.
"Cabai rawit juga mengalami penurunan harga karena masuk masa panen di sentra produksi Jawa dan Sulawesi," sebutnya.
Baca Juga: Pengangguran di Kaltim Turun saat Tambang Terkontraksi
Selain itu, normalisasi permintaan LPG setelah Ramadan dan Idul Fitri membuat harga bahan bakar rumah tangga ikut melandai. Namun di sisi lain, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,13 persen. Kenaikan tarif penerbangan akibat penyesuaian harga avtur memicu tekanan pada sektor transportasi udara.
Selain itu, harga semangka, tomat, kangkung, minyak goreng, hingga biaya servis kendaraan juga mengalami kenaikan akibat cuaca hujan berkepanjangan dan gangguan distribusi. Bank Indonesia menilai tantangan inflasi ke depan masih perlu diwaspadai.
Risiko musim kemarau yang mulai terjadi pada pertengahan 2026 diperkirakan dapat memengaruhi produksi pertanian di wilayah Kalimantan Timur. Di saat yang sama, meningkatnya kebutuhan pangan akibat ekspansi program SPPG juga berpotensi meningkatkan tekanan permintaan pangan daerah.
"Untuk menjaga stabilitas harga, TPID bersama Bank Indonesia terus memperkuat berbagai program pengendalian inflasi seperti operasi pasar, gerakan pangan murah, distribusi beras SPHP, penanaman cabai dan jagung, hingga penyebaran ribuan bibit tanaman pangan di Balikpapan," tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo