KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bank Indonesia (BI) menilai media dan opinion maker memiliki peran strategis dalam menjaga iklim investasi di Kalimantan. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, derasnya arus informasi, hingga mulai munculnya tensi politik di sejumlah daerah, narasi yang disampaikan ke publik dinilai sangat menentukan kepercayaan investor terhadap Kalimantan.
Kondisi ekonomi saat ini tidak hanya dipengaruhi angka statistik, tetapi juga persepsi dan kepercayaan publik.
“Apabila kepercayaannya goyah, sangat mungkin menjatuhkan angka yang secara aktual kondisinya itu sebenarnya baik-baik saja,” ujar Deputi Kepala Perwakilan BI Kalimantan Selatan selaku Koordinator BI Wilayah Kalimantan, Aloysius Donanto.
Baca Juga: KalaFest 2026 Cetak Transaksi Miliaran, UMKM Syariah Kaltim Bersinar
Menurutnya, media perlu melihat fenomena ekonomi dan sosial dari berbagai sudut pandang agar masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh. Dia mengingatkan bahwa penyampaian informasi yang terlalu sempit berpotensi menciptakan persepsi negatif terhadap kondisi ekonomi daerah.
“Media di Kalimantan melihat fenomena-fenomena yang muncul ini dari narasi, dari perspektif yang menyeluruh. Sehingga tidak hanya satu perspektif saja,” imbuhnya.
Donanto mengatakan Kalimantan saat ini masih sangat bergantung pada investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena itu, kestabilan persepsi menjadi penting agar investor tetap percaya menanamkan modalnya di wilayah tersebut.
“Kalimantan itu rely on investasi. Kalau kita ingin mengundang investor lain masuk, maka kita harus sama-sama membuat kondisi yang baik buat investasi tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: PPU Masih Inflasi, Harga Bawang dan Minyak Goreng Jadi Pemicu Utama
Menurut dia, media dan opinion maker memiliki kekuatan besar dalam membangun stabilitas tersebut melalui penyampaian informasi yang akurat dan mudah dipahami masyarakat. Dia juga menyinggung ketidakpastian global yang masih berlangsung hingga saat ini, mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi harga komoditas dunia. Kondisi tersebut dinilai akan berdampak langsung terhadap ekonomi Kalimantan yang selama ini banyak ditopang ekspor komoditas.
“Pengaruh dari Timur Tengah sana masih kita enggak tahu kapan akan selesai,” ucapnya. Selain itu, dia juga menyoroti dampak pembatasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor batu bara dari pemerintah pusat yang dinilai cukup besar terhadap Kalimantan.
“Di sisi lain ada pembatasan RKAB dari Kementerian ESDM yang sampai sekarang masih bergulir. Turunnya jauh soalnya. Kalimantan itu tahun-tahun kemarin sekitar 790 juta ton, sekarang itu 600 lebih,” katanya.
Penurunan produksi tersebut, menurutnya, akan menjadi tantangan baru bagi daerah untuk mencari solusi menjaga pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, komunikasi publik yang baik menjadi semakin penting agar masyarakat memahami konteks di balik berbagai kebijakan ekonomi yang muncul.
Dia menambahkan, media juga memiliki peran dalam meningkatkan kualitas pemahaman publik terhadap isu ekonomi yang kerap dianggap rumit. Sebab ekonomi bukan hanya soal angka, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap kondisi yang sedang berlangsung. “Angka bisa kita jadikan sebagai tools untuk membangun kepercayaan,” tutupnya. (*)
Editor : Duito Susanto