KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Aktivitas investasi dan perizinan usaha di Balikpapan pada triwulan I 2026 menunjukkan geliat yang menggembirakan. Data Dashboard OSS Berbasis Risiko Balikpapan mencatat sebanyak 4.756 proyek usaha terdaftar dengan 3.016 Nomor Induk Berusaha (NIB) diterbitkan berdasarkan lokasi pelaku usaha.
Sektor usaha dengan kategori risiko rendah di Balikpapan mendominasi dengan 3.495 proyek atau sekitar 73,5 persen. Sementara usaha risiko menengah rendah mencapai 723 proyek atau 15,2 persen, menengah tinggi sebanyak 397 proyek atau 8,3 persen, dan risiko tinggi sebanyak 141 proyek atau 3 persen.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Balikpapan Hasbullah Helmi, mengatakan tingginya jumlah proyek risiko rendah menunjukkan iklim usaha di Balikpapan semakin ramah bagi pelaku UMKM dan usaha jasa.
“Dominasi usaha risiko rendah menunjukkan masyarakat semakin aktif memanfaatkan kemudahan sistem OSS berbasis risiko. Ini menjadi indikator positif bahwa iklim investasi dan usaha di Balikpapan semakin terbuka dan efisien,” tuturnya, Senin (11/5).
Baca Juga: Ketika Batu Bara Tak Lagi Cukup
Data OSS juga menunjukkan pelaku usaha dalam negeri masih mendominasi. Tercatat sebanyak 3.013 NIB atau 99,9 persen berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) hanya sebanyak tiga NIB atau 0,1 persen.
Di sisi lain, kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Dari total NIB yang diterbitkan, sebanyak 2.989 atau 99,1 persen berasal dari UMK, sedangkan non-UMK hanya 27 NIB atau 0,9 persen. Data tersebut memperlihatkan sektor UMKM masih menjadi penggerak utama perekonomian lokal, terutama di tengah pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa.
“UMKM di Balikpapan tumbuh sangat baik. Kemudahan perizinan melalui OSS memberi dampak besar terhadap peningkatan legalitas usaha masyarakat. Ini penting agar pelaku usaha bisa lebih mudah mengakses pembiayaan dan pasar,” katanya.
Sebaran proyek usaha paling banyak berada di Balikpapan Selatan dengan 1.616 proyek atau 34 persen. Disusul Balikpapan Utara sebanyak 1.285 proyek atau 27 persen, Balikpapan Timur 618 proyek, Balikpapan Tengah 474 proyek, dan Balikpapan Kota 447 proyek.
Sementara berdasarkan klasifikasi lapangan usaha atau KBLI, aktivitas jasa perorangan lainnya menjadi sektor paling dominan dengan 659 proyek. Disusul perdagangan eceran berbagai macam barang, perdagangan eceran makanan lainnya, serta industri produk makanan lainnya.
Hasbullah menilai tren ini menunjukkan sektor jasa dan perdagangan masih menjadi pilihan utama investor dan pelaku usaha di Balikpapan karena memiliki perputaran ekonomi yang cepat. “Kami melihat sektor jasa, perdagangan, dan makanan-minuman masih sangat potensial. Apalagi Balikpapan merupakan kota jasa dan penyangga IKN sehingga kebutuhan terhadap sektor-sektor tersebut terus meningkat,” jelasnya.
Dari sisi status perizinan, sebanyak 6.389 izin atau 71,1 persen terbit secara otomatis melalui sistem OSS. Kemudian 2.486 izin atau 27,6 persen telah terverifikasi, sementara 117 izin masih menunggu verifikasi. Pemerintah Balikpapan melalui DPMPTSP menargetkan peningkatan kualitas pelayanan investasi dan percepatan penerbitan izin agar realisasi investasi daerah terus bertumbuh sepanjang 2026.
“Ke depan kami terus memperkuat pelayanan digital, pendampingan pelaku usaha, dan percepatan proses verifikasi agar investasi di Balikpapan semakin kompetitif,” tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo