KALTIMPOST.ID-Pentingnya penguatan koordinasi, komunikasi, dan latihan keamanan secara berkala dalam menghadapi berbagai potensi ancaman di kawasan pelabuhan. Hal tersebut disampaikan Kasi Patroli, Penyidikan dan Penjagaan KSOP Balikpapan I Komang Budiawan.
Dia mengatakan, pelaksanaan eksersis atau simulasi keamanan merupakan kewajiban yang harus dilakukan pengelola pelabuhan sebagai bagian dari implementasi International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code.
Menurutnya, meski selama ini operasional KKT berjalan aman dan terkendali, kesiapsiagaan tetap harus dijaga melalui simulasi rutin agar seluruh personel memahami langkah penanganan ketika menghadapi ancaman nyata.
“Kalau untuk ancamannya memang mudah-mudahan kita tidak berharap itu pernah terjadi. Selama ini KKT berjalan dengan baik, aman dan terkendali,” tutur Komang.
Baca Juga: Seleksi Calon Kepala Dinas di Pemkab Berau Tertunda, Pansel dari Pemprov Kaltim Masih Ditunggu
Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan ISPS Code, pelabuhan wajib melaksanakan eksersis keamanan secara berkala selama masa berlaku sertifikat keamanan fasilitas pelabuhan.
Dalam praktiknya, simulasi dapat dilakukan maksimal setiap 18 bulan sekali, sementara di internal KKT sendiri latihan atau drill keamanan dilakukan setiap tiga bulan.
“Tujuannya agar kalau terjadi insiden atau ancaman, penanganannya bisa cepat. Security-nya sudah siap dan standar IMO-nya juga sudah berjalan,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, simulasi yang dilakukan mengangkat skenario sabotase dan upaya penguasaan kapal kontainer oleh pihak tidak dikenal menggunakan speed boat.
Selain ancaman fisik, KSOP juga menyoroti ancaman baru yang kini menjadi perhatian di sektor kepelabuhanan, yakni serangan siber atau cyber attack.
“Jenis ancamannya sekarang ada cyber, kemudian sabotase dan ancaman lainnya. Jadi semua harus diantisipasi,” ungkap Komang.
Baca Juga: Investasi Balikpapan Triwulan III 2025 Tembus Rp 10,26 Triliun, Efek Pembangunan IKN Menguat
Ia menilai, keberhasilan penanganan ancaman di pelabuhan tidak hanya bergantung pada sistem keamanan, tetapi juga ditentukan oleh koordinasi dan komunikasi antarinstansi maupun antarpetugas di lapangan.
“Kuncinya komunikasi dan koordinasi harus berjalan dengan baik. Kalau drill dan eksersisnya sudah dilaksanakan sesuai ISPS Code, saya kira koordinasi dan komunikasinya juga akan berjalan dengan baik,” jelasnya.
Menurut Komang, hasil pelaksanaan simulasi keamanan di KKT dinilai cukup baik dan menunjukkan kesiapan pengelola pelabuhan dalam menjalankan standar keamanan internasional. Ia juga mengapresiasi komunikasi antarinstansi yang dinilai sudah berjalan efektif selama pelaksanaan eksersis.
Selain membahas kesiapan keamanan pelabuhan, KSOP Balikpapan juga menyoroti posisi strategis Balikpapan sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dengan meningkatnya aktivitas logistik dan pertumbuhan kawasan industri di sekitar IKN, keamanan pelabuhan dinilai menjadi aspek yang semakin vital.
“Dengan adanya IKN ini otomatis kita berada di depannya. Harapannya ke depan semua pelabuhan yang menerapkan ISPS Code bisa melaksanakannya dengan baik sehingga keselamatan dan keamanan tetap terjaga,” ujarnya.
Komang menambahkan, seluruh badan usaha pelabuhan (BUP), terutama yang termasuk objek vital nasional, diharapkan terus memperkuat implementasi ship security plan maupun port facility security plan agar koordinasi dan komunikasi antarinstansi semakin mudah dilakukan ketika terjadi kondisi darurat.
Ia memastikan, sejauh ini hubungan koordinasi antara KSOP dan pengelola pelabuhan di Balikpapan berjalan baik tanpa kendala berarti, termasuk dalam aspek regulasi maupun pengawasan di lapangan. “Kalau sejauh ini komunikasinya bagus dan koordinasinya juga berjalan baik,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.