KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dominasi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dalam industri perbankan syariah semakin terlihat sepanjang Triwulan I 2026. Tidak hanya mencatat pertumbuhan tabungan tertinggi di industri, BSI juga berhasil memperluas basis nasabah haji nasional hingga menembus 7,25 juta rekening.
Menariknya, sekitar 1,2 juta di antaranya berasal dari kalangan generasi muda atau Millennial dan Gen-Z. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku keuangan masyarakat muda Indonesia yang mulai menjadikan ibadah haji sebagai bagian dari perencanaan finansial jangka panjang.
Di tengah meningkatnya kesadaran literasi keuangan syariah, tabungan haji kini tidak lagi identik dengan kelompok usia tua. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan tabungan menjadi mesin utama pertumbuhan perseroan, terutama dari segmen tabungan haji.
“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,” ungkapnya. Lonjakan tersebut tidak lepas dari meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah haji.
Data BSI menunjukkan jumlah pendaftar haji nasional naik signifikan dari 286,4 ribu orang pada 2023 menjadi 422,3 ribu orang pada 2025. Dari total pendaftar tersebut, sebanyak 226,4 ribu di antaranya mendaftar melalui BSI.
Kondisi ini membuat pangsa pasar BSI di sektor tabungan haji meningkat dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025. Bahkan untuk fase keberangkatan tahun 2026, sekitar 83,5 persen kuota jamaah berasal dari nasabah yang mendaftar melalui BSI.
Menurut Anggoro, peningkatan tersebut ditopang oleh kemudahan layanan digital melalui aplikasi BYOND by BSI serta kampanye nasional yang agresif dalam edukasi perencanaan haji sejak usia muda. Sejak merger pada 1 Februari 2021, BSI berhasil menambah 9,26 juta nasabah baru.
Hanya dalam tiga bulan pertama 2026, jumlah nasabah kembali bertambah sekitar 500 ribu menjadi 23,7 juta nasabah. Pertumbuhan basis nasabah itu kemudian mendorong peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara signifikan.
Hingga Maret 2026, DPK BSI mencapai Rp 376,8 triliun atau tumbuh 18 persen secara tahunan. Kinerja dana murah atau CASA menjadi penopang utama. Giro tumbuh 24,17 persen menjadi Rp 71,7 triliun, sedangkan tabungan meningkat 20,18 persen menjadi Rp 164,5 triliun. Secara keseluruhan, CASA BSI mencapai Rp 236,2 triliun atau tumbuh 21,36 persen secara tahunan.
"Di tengah persaingan ketat industri perbankan nasional, capaian ini memperlihatkan bahwa sektor perbankan syariah semakin kompetitif dan mampu sejajar dengan bank-bank besar konvensional," ujarnya.
BSI bahkan berhasil masuk jajaran lima besar bank nasional setelah resmi menjadi bank persero pada Januari 2026. Total aset perseroan kini mencapai Rp 460,1 triliun. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo