KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Keputusan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengembangkan model bisnis “dual licence” mulai menunjukkan hasil signifikan. Menggabungkan layanan sebagai bank syariah sekaligus bank emas, BSI sukses meningkatkan laba, memperluas basis nasabah, hingga memperkuat pendapatan berbasis komisi atau fee based income.
Pada Triwulan I 2026, BSI membukukan laba bersih sebesar Rp 2,2 triliun atau tumbuh 17,1 persen secara tahunan. Perseroan menilai pertumbuhan ini ditopang kombinasi bisnis haji, layanan emas, efisiensi biaya dana, dan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga.
“Keunikan dual licence menghasilkan kinerja BSI yang sehat dan profit sustain,” kata Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo. Ia berujar, dual licence menjadi kekuatan unik yang membedakan BSI dengan bank lain di Indonesia.
Selain memperkuat bisnis syariah, lisensi emas juga dinilai berhasil meningkatkan inklusivitas layanan keuangan. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya jumlah nasabah non-muslim hingga mencapai 12 persen.
Baca Juga: Generasi Muda Ramai-ramai Nabung Haji, BSI Kini Kuasai Lebih dari 53 Persen Pasar Nasional
Dari sisi pendapatan non-margin, strategi tersebut terbukti efektif. Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengungkapkan fee based income perseroan tumbuh 22,98 persen menjadi Rp 2,09 triliun pada Triwulan I 2026.
Kontributor terbesar berasal dari bisnis emas dengan porsi mencapai 33,69 persen atau sekitar Rp 705 miliar. "Nilai tersebut melonjak 125 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya," sebutnya.
Bisnis treasury menyumbang 21,67 persen, sedangkan layanan E-channel memberikan kontribusi sebesar 17,46 persen terhadap total fee based income BSI. Pertumbuhan bisnis emas juga tercermin dari meningkatnya pembiayaan gadai emas sebesar 58,3 persen secara tahunan. Sementara layanan E-mas tumbuh sangat agresif hingga lebih dari 2.700 persen.
"Kondisi ini memperlihatkan bahwa emas kini bukan hanya instrumen investasi tradisional, tetapi mulai menjadi produk keuangan digital yang diminati masyarakat luas," ucapnya.
Di sisi lain, peningkatan dana murah turut membantu BSI menekan biaya dana menjadi 2,12 persen. Rasio Cost of Credit juga tetap terjaga pada level 0,73 persen.
Kinerja tersebut kemudian berdampak terhadap profitabilitas perusahaan. Hingga Maret 2026, rasio Return on Assets (ROA) BSI tercatat 2,53 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) mencapai 19,36 persen. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo