KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Menjual makanan sehat di Samarinda ternyata bukan sekadar soal rasa. Bagi Anis Wijdaniah, tantangan terbesar justru bagaimana membuat masyarakat percaya bahwa makanan sehat tidak selalu identik dengan menu hambar dan khusus untuk diet.
Lewat usaha bernama Active Eat Box, perempuan muda itu perlahan membangun pasar sendiri di tengah pilihan makanan sehat yang masih terbatas di Samarinda. “Masih banyak yang mikir makanan sehat itu cuma buat orang diet atau orang sakit,” katanya.
Anis memulai usahanya dengan sistem pre-order. Selama enam bulan pertama, dia hanya menjual dua menu sederhana, yakni sandwich telur dan salad ayam. Saat itu, penjualannya masih terbatas pada teman dekat dan keluarga.
Dia sempat mencoba promosi melalui Instagram, tetapi hasilnya belum terlalu terasa. Hingga akhirnya Anis mulai aktif menggunakan TikTok untuk mengenalkan produknya. “Ternyata TikTok lumayan membantu bikin orang aware sama produk saya,” ujarnya.
Baca Juga: Sempat Menganggur Usai Lulus Kuliah, Anis Kini Sukses Bangun Bisnis Makanan Sehat di Samarinda
Namun setelah beberapa waktu berjalan, Anis menyadari pasar yang datang belum sesuai target. Da ingin menyasar pekerja dan pegiat olahraga yang membutuhkan makanan praktis dan sehat. Akhirnya, dia memilih turun langsung ke komunitas-komunitas olahraga.
Mulai dari event lari, hiking, hingga kegiatan panjat tebing dia ikuti demi memperluas relasi sekaligus mengenalkan produknya ke orang-orang dengan gaya hidup serupa. “Di situ saya mulai ketemu market yang memang relate sama bisnis saya,” tuturnya.
Strategi itu perlahan berhasil. Pelanggan dari kalangan pekerja dan pegiat healthy lifestyle mulai berdatangan. Meski permintaan meningkat, Anis memilih mengembangkan bisnisnya secara perlahan. Selama enam bulan pertama, Active Eat Box tetap menggunakan sistem pre-order karena seluruh operasional masih dikerjakan sendiri.
Baca Juga: Penjualan Sapi Kurban di Samarinda Masih "Dingin", Pedagang Optimistis Ramai Sepekan Jelang Iduladha
Dia bahkan menunda masuk ke layanan pesan antar daring karena khawatir tidak mampu menjaga kualitas jika pesanan tiba-tiba membludak. “Saya enggak mau buru-buru takut kualitasnya turun,” katanya.
Barulah setelah penjualan dinilai cukup stabil, mulai merekrut satu karyawan dan membuka layanan melalui aplikasi pesan antar daring pada awal 2026. Kini selain menu praktis seperti sandwich dan salad, Anis mulai menyiapkan konsep meal box dengan menu khas Indonesia versi lebih sehat.
Menurutnya, konsep makanan sehat harus tetap dekat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang terbiasa makan nasi. “Jadi nanti tetap ada nasi, tapi dibuat lebih balance gizinya,” ujarnya.
Selain menjual produk, Anis juga aktif membuat konten edukasi tentang pola makan sehat melalui media sosialnya. Baginya, bisnis makanan sehat seharusnya tidak hanya berjualan, tetapi juga membantu masyarakat memahami pentingnya gizi seimbang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo