KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Industri perhotelan di Balikpapan masih menghadapi tekanan akibat menurunnya kegiatan pemerintahan dan perlambatan ekonomi. Meski demikian, pelaku hotel di Kota Minyak mulai menemukan celah pasar baru untuk menjaga tingkat okupansi tetap bergerak positif.
Mengenai itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto mengatakan, hotel-hotel kini tidak hanya bergantung pada agenda pemerintahan, tetapi juga mulai agresif membidik pasar korporasi dan travel agent.
“Sekarang teman-teman hotel sudah rajin ke korporat dan travel-travel. Itu yang sedang dikejar,” ucap Soegianto.
Menurutnya, kondisi saat ini berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya ketika sektor pemerintahan menjadi tulang punggung utama industri hotel di Balikpapan. Efisiensi anggaran membuat jumlah kegiatan dinas dan rapat pemerintahan jauh berkurang.
Baca Juga: Okupansi Belum Pulih, Dua Hotel Baru Justru Akan Muncul di Balikpapan
Meski begitu, Soegianto menyebut pasar pemerintahan belum sepenuhnya hilang. “Pemerintah tetap dikejar juga, karena kadang-kadang masih ada kegiatan. DPRD juga masih ada walaupun tidak banyak,” tuturnya.
Ia mencontohkan, sejumlah rombongan kunjungan dari daerah lain ke Ibu Kota Nusantara (IKN) masih cukup rutin datang ke Balikpapan melalui travel agent. “Misalnya pemerintahan dari Madiun kunjungan ke IKN, biasanya mereka lewat travel juga karena paketnya lengkap,” katanya.
Menurut Soegianto, travel agent kini memiliki peran besar dalam mendatangkan tamu rombongan karena banyak instansi lebih memilih sistem perjalanan paket yang mencakup tiket, hotel, dan transportasi sekaligus.
Selain kunjungan pemerintahan, sektor korporasi juga mulai memberikan harapan baru bagi hotel-hotel di Balikpapan. Sejumlah perusahaan disebut masih rutin menggelar kegiatan internal maupun menerima tamu dari pusat.
Baca Juga: Soroti Air Keruh dan Macet, DPRD Paser Desak Perumdam Tirta Kandilo Lakukan Modernisasi Sistem
“Corporate masih ada event-event, masih ada tamu dari pusat, kadang mereka juga masih mengadakan catering dan kegiatan,” ujarnya.
Namun ia mengakui, durasi menginap tamu saat ini cenderung lebih pendek dibanding sebelumnya. “Jumlah harinya tidak terlalu lama. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah bisa 52 persen, itu lumayan dibanding Januari dan Februari yang berat sekali,” katanya.
Soegianto mengungkapkan okupansi hotel bintang 4 dan 5 saat ini berada di kisaran 52 persen, sedangkan hotel bintang 3 justru lebih tinggi mencapai 66,95 persen secara month to date Mei 2026.
Ia optimistis tren tersebut masih dapat meningkat seiring masuknya periode ramai hotel pada pertengahan tahun. “Siklus hotel biasanya bagus mulai Mei sampai Agustus. Harusnya periode itu penuh terus,” sebutnya.
PHRI Balikpapan berharap semakin banyak kegiatan nasional maupun kunjungan ke IKN yang dapat membantu menopang industri hotel hingga akhir tahun. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo