KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Maskapai nasional Brunei Darussalam, Royal Brunei Airlines (RBA), mulai serius memperluas pasar penerbangan internasional dari Balikpapan. Tidak hanya menyasar wisata umum, maskapai tersebut kini membidik segmen wisata religi, pendidikan internasional, hingga medical tourism sebagai pasar potensial baru dari Kalimantan Timur.
Dalam kesempatan berkunjung ke Kota Minyak, Sales & Marketing Manager Royal Brunei Airlines, Gloria Lekransy mengungkap, Balikpapan dipilih karena memiliki potensi penumpang internasional yang besar, terutama setelah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai berjalan.
“Harapannya kita bisa bawa penumpang dari Kalimantan terutama untuk going abroad. Jadi misalnya yang mau ke Korea, Jepang atau London, mereka tidak perlu transit lagi di Jakarta atau Surabaya. Mereka bisa langsung ke Brunei lalu beyond ke negara tujuan,” ungkapnya.
RBA resmi kembali membuka rute Balikpapan–Brunei sejak 19 Februari 2025 setelah sempat berhenti pasca pandemi Covid-19. Saat ini penerbangan tersedia dua kali dalam seminggu, yakni setiap Rabu dan Sabtu.
Menariknya, tingkat keterisian penumpang atau load factor penerbangan tersebut disebut sudah mencapai lebih dari 80 persen di setiap jadwal keberangkatan. Kondisi ini menunjukkan tingginya minat masyarakat Kalimantan Timur untuk penerbangan internasional langsung tanpa transit di kota besar Indonesia.
“Kebanyakan untuk leisure atau liburan. Tapi khusus flight hari Sabtu itu juga ada yang lanjut untuk umrah karena kita punya koneksi penerbangan ke Jeddah,” katanya. Menurut Gloria, pasar wisata religi dari Balikpapan dinilai cukup besar karena masyarakat Kalimantan Timur memiliki antusiasme tinggi terhadap perjalanan ibadah umrah.
Selain wisata religi, Royal Brunei juga mulai masuk ke pasar layanan kesehatan lintas negara. Perusahaan penerbangan tersebut telah menjalin kolaborasi dengan sejumlah rumah sakit di Brunei guna menarik wisatawan medis dari Indonesia.
Baca Juga: Menenun Integrasi Ekonomi: QRIS Antarnegara RI-Tiongkok Jadi Jembatan Masa Depan
“Kita juga ada kolaborasi dengan beberapa rumah sakit lokal di Brunei untuk medical tourism. Jadi kita memang lagi berusaha mencapai market segment baru,” jelasnya.
Tidak hanya itu, RBA juga mulai menggarap pasar pendidikan internasional melalui kerja sama dengan Jerudong International School (JIS), sekolah elite di Brunei. Salah satu bentuk kerja sama yang disiapkan yakni pemberian tarif khusus pelajar dan tambahan fasilitas bagasi.
Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana maskapai kini tidak lagi sekadar menjual tiket penerbangan, melainkan membangun ekosistem perjalanan berbasis pendidikan, kesehatan, dan wisata religi sekaligus.
Di sisi lain, Gloria mengakui tantangan utama saat ini masih terletak pada branding dan promosi pasar di Kalimantan. Karena itu, perusahaan mulai memperluas strategi promosi dari media sosial ke radio, televisi lokal, hingga kolaborasi bersama influencer.
“Kalau secara branding mungkin masih bisa lebih diperbanyak lagi. Jadi kita terus improvisasi, collab dengan televisi lokal, radio, sampai influencer supaya Royal Brunei Airlines lebih dikenal di Kalimantan,” ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo