KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Industri event dan hospitality di Balikpapan diprediksi bakal memasuki fase baru setelah hadirnya Platinum Convention Hall yang terkoneksi langsung dengan hotel dan mampu menampung hingga 6.000 orang secara keseluruhan.
“Convention hall ini mulai dibangun pada pertengahan 2023 dan dirancang dengan standar profesional serta fasilitas modern,” kata General Manager Platinum Hotel and Convention Hall Balikpapan Joko Budi Jaya. Ia mengatakan fasilitas tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan kegiatan lokal, nasional hingga internasional yang terus meningkat seiring perkembangan IKN.
Ia menjelaskan gedung tersebut memiliki luas sekitar 12.300 meter persegi, lengkap dengan area parkir, lobby transit, lift, eskalator, LCD videotron, sound system hingga sistem penayangan modern. “Convention Hall di lantai tiga bisa dibagi menjadi tiga hall dan jika dibuka penuh mampu menampung 3.000 orang,” ujarnya.
Selain convention hall utama, fasilitas itu juga memiliki concert hall, podium hall, VVIP room hingga terrace hall berkapasitas 300 orang. Yang menjadi kekuatan utama, kata dia, adalah konektivitas langsung dengan hotel dan ballroom yang membuat total kapasitas keseluruhan mencapai sekitar 6.000 orang. “Hotel dan convention hall ini secara keseluruhan bisa memuat 6.000 orang,” katanya.
Besarnya kapasitas tersebut membuka peluang Balikpapan menjadi tuan rumah berbagai agenda besar yang sebelumnya lebih banyak digelar di Jakarta, Surabaya atau Bali. Industri turunannya diperkirakan ikut terdorong, mulai dari katering, dekorasi, wedding organizer, UMKM, transportasi, hingga jasa kreatif lainnya.
Joko menilai ruang pertemuan berkualitas akan menjadi pusat interaksi ekonomi baru. “Kami percaya ruang yang berkualitas akan mendorong terciptanya interaksi yang produktif, kolaborasi yang efektif serta inovasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga: Teman Ngopi Baru di Aston Samarinda, Mini Burger Homemade hingga Paket Croissant Mulai Rp75 Ribu
Ia mengatakan pihak manajemen juga mengundang jaringan eksekutif hotel dari Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Bali hingga Balikpapan untuk membangun koneksi industri sekaligus memperkenalkan potensi convention hall baru tersebut.
Langkah itu menunjukkan persaingan industri perhotelan kini tidak lagi hanya soal kamar menginap, melainkan perebutan pasar event berskala besar yang bernilai ekonomi tinggi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo