KALTIMPOST.ID - Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai memicu perubahan arah pembangunan ekonomi di Kaltim. Salah satu dampak yang kini mulai terlihat adalah percepatan digitalisasi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagai fondasi ekonomi penyangga kawasan baru tersebut.
Bank Indonesia (BI) Balikpapan menilai UMKM lokal harus disiapkan sejak awal agar tidak hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi IKN. Karena itu, penguatan kapasitas digital menjadi prioritas melalui Program DIGDAYA UMKM 2026.
Program tersebut melibatkan berbagai pihak mulai dari Otorita IKN, pemerintah daerah, perbankan, hingga korporasi besar yang membina UMKM di Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser. Sehingga sinergi lintas lembaga menjadi kunci agar UMKM lokal memiliki kesiapan menghadapi perubahan ekonomi kawasan.
Baca Juga: Arus Keberangkatan dari Pelabuhan Semayang Melonjak Hampir Tiga Kali Lipat
“Langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem UMKM yang adaptif, inovatif, dan mampu bersaing di era transformasi digital,” tutur Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi baru-baru ini.
Dari 160 peserta yang mengikuti seleksi, hanya 44 UMKM yang lolos kurasi. Mereka dipilih berdasarkan kesiapan usaha, komitmen berkembang, serta potensi ekspansi bisnis di era ekonomi digital.
Menariknya, sebagian besar peserta berasal dari sektor yang diprediksi menjadi kebutuhan utama kawasan IKN, seperti makanan olahan, fesyen lokal, dan produk kerajinan. BI melihat sektor-sektor ini memiliki peluang besar masuk ke rantai pasok ekonomi baru Nusantara.
Transformasi digital yang dilakukan bukan hanya untuk memperluas penjualan online, tetapi juga meningkatkan profesionalisme usaha. Peserta mendapatkan materi mengenai branding, legalitas usaha, optimalisasi website, hingga strategi scale up bisnis.
Baca Juga: Penumpang Bandara SAMS Sepinggan Tembus 412 Ribu Orang, Efek Libur Panjang dan WFA
Langkah ini menunjukkan bahwa UMKM kini diposisikan sebagai bagian dari pembangunan ekonomi modern, bukan lagi sekadar sektor informal pelengkap. "Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan penyangga IKN memang menghadapi perubahan struktur ekonomi yang cepat," ujarnya.
Kehadiran investasi besar dan pembangunan infrastruktur diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan produk dan jasa lokal secara signifikan. Namun tanpa transformasi digital, banyak UMKM dikhawatirkan sulit bersaing dengan pelaku usaha besar dari luar daerah yang memiliki modal dan sistem bisnis lebih kuat.
Karena itu, BI Balikpapan mencoba membangun model pembinaan jangka panjang melalui pendampingan intensif dan monitoring berkala hingga Oktober 2026. Robi menilai keberhasilan program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan omzet UMKM, tetapi juga menciptakan fondasi ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Dalam jangka panjang, program ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan melalui terciptanya UMKM yang tangguh, produktif, dan berdaya saing tinggi,” katanya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo