Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Portofolio Merah, Investor Pilih Bertahan dan Rebalancing di Tengah Tekanan Pasar

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 30 Mei 2026 | 19:25 WIB
PILIHAN: Musdalifah menilai saham perusahaan dengan fundamental kuat masih memiliki daya tahan lebih baik dibanding sektor lain.
PILIHAN: Musdalifah menilai saham perusahaan dengan fundamental kuat masih memiliki daya tahan lebih baik dibanding sektor lain.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekanan yang terjadi di pasar modal sepanjang tahun ini turut dirasakan investor ritel. Tak terkecuali dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (FEB Unmul) Musdalifah Azis yang telah terjun ke dunia investasi saham sejak 2013.

Musdalifah mengaku portofolio saham yang dimilikinya saat ini juga terdampak pelemahan pasar. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah.

"Itu memang sudah terjadi sejak awal tahun ya. Jadi kondisi portofolio saham ini memang mengalami tekanan," ujar akademisi pakar investasi tersebut.

Dia menjelaskan, tekanan tersebut tidak lepas dari volatilitas global yang dipengaruhi sejumlah konflik geopolitik. Mulai dari perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat hingga kekhawatiran terhadap inflasi global.

Baca Juga: Investor Lokal Jadi Tumpuan saat Dibayangi Ketidakpastian, BEI Pastikan Saham Tak Ditinggalkan

"Volatilitas global itu kan karena akibat kekhawatiran dari adanya beberapa perang. Terus ada kenaikan yield obligasi Amerika, terus ada tekanan inflasi yang mau berubah," paparnya.

Meski demikian, Musdalifah menilai saham perusahaan dengan fundamental kuat masih memiliki daya tahan lebih baik dibanding sektor lain. Selama ini, dia memilih berinvestasi pada saham-saham yang masuk kelompok LQ45 dan memiliki kinerja fundamental yang baik.

Menurutnya, investor tidak harus panik saat pasar mengalami koreksi. Ada sejumlah strategi yang bisa diterapkan untuk mempertahankan portofolio, mulai dari menahan saham (hold), melakukan averaging hingga rebalancing.

Dia menjelaskan, averaging dilakukan dengan membeli kembali saham yang harganya turun agar harga rata-rata kepemilikan menjadi lebih rendah. Sementara rebalancing dilakukan dengan mengatur ulang komposisi portofolio berdasarkan sektor yang dinilai lebih prospektif.

Baca Juga: Saat IHSG Bergejolak, Emas dan Sukuk Negara Jadi Buruan Investor

"Rebalancing itu seperti kita mengatur ulang komposisi, persentase, kombinasi dari efek portofolio yang kita miliki," jelasnya. Sebagai contoh, ketika saham sektor tertentu seperti batu bara mengalami tekanan, investor dapat mengurangi porsinya dan mengalihkan dana ke sektor yang dinilai lebih kuat.

Selain itu, Musdalifah juga menilai emas dapat menjadi alternatif diversifikasi ketika ketidakpastian global meningkat. Menurutnya, kondisi geopolitik sangat memengaruhi keputusan investor karena pasar tidak menyukai ketidakpastian.

"Mereka itu tidak suka dengan hal yang ketidakpastian. Hal ketidakpastiannya lebih mendominasi. Mereka kan pasti berpikir amannya bagaimana," katanya. Meski pasar masih dibayangi berbagai risiko, Musdalifah menilai investasi saham tetap menarik untuk jangka panjang.

Namun investor harus lebih peka membaca perubahan sentimen pasar. "Cuman kita itu perlu menjaga sensitivitasnya aja toh. Misalnya kita kalau investasi kan namanya itu jangka panjang," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#portofolio saham merah #strategi investasi saham #averaging saham #rebalancing portofolio #investasi saham