Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Perbankan hingga Kesehatan Jadi Sektor Aman saat Pasar Saham Bergejolak

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 30 Mei 2026 | 19:28 WIB
KOMBINASI: Tekanan di pasar modal dinilai tidak lepas dari volatilitas global yang dipengaruhi sejumlah konflik geopolitik.
KOMBINASI: Tekanan di pasar modal dinilai tidak lepas dari volatilitas global yang dipengaruhi sejumlah konflik geopolitik.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di tengah tekanan pasar modal akibat ketidakpastian global, investor disarankan lebih selektif memilih sektor saham. Musdalifah Azis yang terjun di dunia investasi sejak 2013 menilai sejumlah sektor masih memiliki prospek kuat hingga akhir tahun.

Menurutnya, sektor perbankan menjadi salah satu pilihan yang relatif aman karena tetap dibutuhkan masyarakat dalam berbagai kondisi ekonomi.

"Jadi cari sektor-sektor yang menjadi penguatnya kan," ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (FEB Unmul) tersebut, yang juga Pembina Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) FEB Unmul.

Selain perbankan, sektor barang konsumsi atau consumer goods juga dinilai memiliki daya tahan karena produknya digunakan masyarakat sehari-hari.

Baca Juga: Portofolio Merah, Investor Pilih Bertahan dan Rebalancing di Tengah Tekanan Pasar

"Konsumsi itu relatif bertahan. Orang itu masih menggunakan produk-produk konsumen, konsumsi kan misalnya sabun, odol, salah satunya saham Unilever," katanya.

Musdalifah mengaku dirinya juga memiliki saham emiten consumer goods. Namun seperti banyak saham lain, sektor tersebut tetap menghadapi tekanan harga dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, dia menilai sektor kesehatan memiliki prospek yang menjanjikan karena kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan dan obat-obatan akan terus ada. "Kesehatan juga. Orang kan tetap membutuhkan. Orang yang sakit juga pasti membutuhkan obat-obatan," ujarnya.

Selain itu, sektor telekomunikasi juga masuk dalam daftar sektor yang dinilai masih kuat karena tingginya penggunaan internet dan layanan digital. Dia menambahkan, investor juga dapat mulai mencermati sektor yang berbasis transformasi energi selama memiliki fundamental yang baik, arus kas stabil, serta tata kelola perusahaan yang sehat.

Baca Juga: Investor Lokal Jadi Tumpuan saat Dibayangi Ketidakpastian, BEI Pastikan Saham Tak Ditinggalkan

Menurut Musdalifah, minat generasi muda terhadap investasi juga tidak menunjukkan penurunan signifikan meski pasar sedang fluktuatif. Hal itu ditopang oleh tingkat literasi keuangan yang semakin baik. "Anak muda sekarang itu sudah terliterasi dengan baik sehingga inklusi keuangan digital itu sudah berkembang luar biasa," tuturnya.

Dengan pemahaman yang lebih baik, generasi muda dinilai tidak hanya berinvestasi pada satu instrumen, tetapi mulai menerapkan diversifikasi aset untuk mengurangi risiko. "Mereka itu lebih berhati-hati. Sudah mulai sadar diversifikasi, sudah bisa memanage risiko-risiko yang bisa saja terjadi atas investasi mereka," katanya.

Musdalifah menilai peluang pemulihan pasar masih terbuka hingga akhir tahun. Namun hal itu sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik global. "Sampai akhir tahun itu kita perlu juga melihat potensi IHSG. Fluktuatif, tapi masih ada peluang untuk recovery-nya jika misalnya tensi geopolitiknya itu sudah mereda," ujarnya.

Menurutnya, meredanya konflik global, inflasi yang lebih terkendali serta arah suku bunga Amerika Serikat akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan pasar ke depan. "Jadi banyak faktor yang perlu kita cermati. Kita masih punya peluang recovery," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#saham perbankan #strategi investasi saham #sektor saham terbaik #pasar modal indonesia #investasi saham