KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global, sektor energi diperkirakan menjadi salah satu sektor yang paling mampu bertahan dan bahkan berpotensi memperoleh keuntungan.
Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan Bambang Saputra mengungkapkan, perusahaan-perusahaan energi memiliki karakteristik berbeda dibanding sektor yang sangat bergantung pada impor. Menurutnya, banyak perusahaan energi berorientasi ekspor sehingga memperoleh pendapatan dalam mata uang dolar.
Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah justru dapat memberikan keuntungan tambahan dari sisi pendapatan. "Secara umum perusahaan energi bagus karena basis bisnisnya banyak yang ekspor. Mereka mendapatkan keuntungan dari harga dolar yang lebih tinggi," katanya, akhir pekan lalu.
Baca Juga: Magang ke Taiwan Jadi Investasi SDM, 45 Mahasiswa Poltekba Jalani MCU Sebelum Berangkat
Kondisi ini membuat sektor energi relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi yang berasal dari pelemahan nilai tukar. Saat sejumlah sektor menghadapi kenaikan biaya produksi akibat impor yang lebih mahal, perusahaan berbasis ekspor justru memiliki peluang meningkatkan pendapatan.
Meski demikian, Bambang mengingatkan bahwa prospek sektor energi tetap dipengaruhi berbagai kebijakan pemerintah, termasuk regulasi ekspor dan tata kelola industri yang terus berkembang. Pelaku pasar saat ini masih menerapkan strategi wait and see sambil menunggu arah kebijakan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
"Semua masih menunggu kepastian. Tiga bulan ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat bagaimana arah kebijakan dan dampaknya terhadap pasar," ujarnya. Selain energi, sektor perbankan besar juga dinilai masih memiliki fundamental kuat sehingga tetap menarik bagi investor jangka panjang.
Kombinasi sektor energi dan perbankan disebut dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin menjaga keseimbangan antara potensi keuntungan dan tingkat risiko. "Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat, arus kas stabil dan kemampuan menghasilkan dividen konsisten diperkirakan menjadi incaran utama investor sepanjang tahun ini," terangnya.
Diketahui, pekan lalu nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (29/5). Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 35 poin ke level Rp 17.880 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 17.845 per dolar AS.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan eksternal dan domestik masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda. Dari global, sebenarnya sempat membaik setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari di tengah negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran dan isu keamanan regional.
“Namun, usulan kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump sehingga pasar masih cenderung berhati-hati,” ujar Ibrahim, Jumat (29/5).
Menurut Ibrahim, prospek tercapainya kesepakatan damai membuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak mulai mereda. Hal itu juga memunculkan harapan bahwa aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz dapat berangsur normal.
Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati kondisi ekonomi AS. Data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditure (PCE) tercatat lebih tinggi dari perkiraan sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2026 tercatat melambat. Produk domestik bruto (PDB) AS hanya tumbuh 1,6 persen, lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar 2 persen.
Baca Juga: Mobil Murah Baru Mirip Agya-Ayla Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp 87 Jutaan
Di dalam negeri, sentimen pasar juga masih dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal nasional. Prospek anggaran negara yang ketat serta potensi pelebaran defisit fiskal menjadi perhatian lembaga pemeringkat global seperti S&P Global, Moody’s, dan Fitch Ratings.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia. Kondisi tersebut memicu lonjakan permintaan dolar AS untuk pembayaran impor sehingga menekan nilai tukar rupiah. “Perlambatan ekspor dan menyusutnya surplus neraca perdagangan juga membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas,” jelas Ibrahim.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan korporasi, termasuk pembayaran dividen dan impor rutin. Sentimen negatif terhadap aset domestik, termasuk tekanan di pasar saham dan obligasi akibat isu MSCI serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), turut memperburuk kondisi pasar keuangan nasional. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo