KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di tengah fluktuasi perdagangan global, sektor pertambangan masih menjadi penggerak utama ekspor Kalimantan Timur (Kaltim). Sepanjang Januari hingga April 2026, komoditas hasil tambang menyumbang 68,24 persen daritotal ekspor Kaltim atau setara USD4,47 miliar.
Sektor industri menempati posisi kedua dengan nilai ekspor USD1,51 miliar dan kontribusi 23,12 persen. Sementara ekspor migas berada di urutan ketiga dengan peranan 8,55 persen terhadap total ekspor Kaltim.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Buntu, Lonjakan Harga Energi Global Mulai Hantui Perekonomian Indonesia
Dijelaskan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai, kenaikan ekspor pada April 2026 terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh cukup kuat dibandingkan bulan sebelumnya.
“Jika dirinci menurut sektor dan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kenaikan nilai ekspor total pada April 2026 disebabkan naiknya nilai ekspor pada sektor nonmigas 19,15 persen,” ujarnya. Kinerja positif tersebut tercermin pada hampir seluruh sektor nonmigas.
Ekspor hasil tambang meningkat dari USD1,05 miliar pada Maret menjadi USD1,23 miliar pada April 2026 atau naik 17,40 persen. Pada periode yang sama, ekspor hasil industri tumbuh lebih tinggi, 23,74 persen menjadi USD442,30 juta.
Sementara itu, ekspor hasil pertanian mencatat pertumbuhan paling tinggi secara bulanan. Nilainya melonjak dari hanya USD150 ribu pada Maret menjadi USD2,13 juta pada April 2026 atau meningkat 1.320 persen. Namun, kontribusinya terhadap total ekspor masih relatif kecil, yakni 0,09 persen.
Baca Juga: DPRD Kutim Bakal Panggil Sejumlah Perusahaan Penerima PROPER Merah, Ini yang Bakal Dilakukan
Bila dibandingkan dengan April tahun lalu, sektor industri menunjukkan performa paling impresif. Nilai ekspornya naik 68,96 persen dari USD261,78 juta menjadi USD442,30 juta. Pada saat yang sama, ekspor hasil tambang juga masih tumbuh 6,34 persen secara tahunan.
“Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi kenaikan pada sektor non migas. Kenaikan sektor nonmigas disebabkan karena naiknya ekspor hasil tambang dan hasil industri masing-masing 6,34 persen dan 68,96 persen, sedangkan untuk ekspor hasil pertanian mengalami penurunan 25,00 persen,” pungkas Mas’ud. (*)
Editor : Dwi Restu A