KALTIMPOST.ID-Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi tulang punggung pembiayaan perumahan di Balikpapan. Namun, dominasi instrumen tersebut mulai menunjukkan penurunan.
Data Bank Indonesia Balikpapan mencatat 71 persen transaksi pembelian rumah baru pada triwulan I 2026 menggunakan fasilitas KPR. Angka itu turun cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 87,7 persen.
“Penurunan tersebut sejalan dengan melemahnya penjualan rumah baru di berbagai segmen,” kata Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi.
Ada sejumlah faktor memengaruhi keputusan masyarakat dalam membeli rumah. Selain kenaikan harga rumah, masyarakat juga menghadapi tantangan berupa meningkatnya suku bunga KPR, kondisi kualitas kredit, serta prioritas pengeluaran rumah tangga yang lebih banyak diarahkan pada kebutuhan sehari-hari.
“Sementara itu, pembayaran secara tunai dan tunai bertahap masing-masing memiliki pangsa sebesar 15 persen dan 14 persen,” sebutnya.
Perubahan komposisi pembiayaan tersebut menunjukkan bahwa pasar properti tidak hanya dipengaruhi oleh harga rumah, tetapi juga akses masyarakat terhadap pembiayaan perbankan.
“Ke depan, kebijakan makroprudensial Bank Indonesia melalui KLM (Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial) diharapkan bisa meningkatkan penyaluran kredit sektor perumahan,” tuturnya.
Dengan dukungan pembiayaan yang lebih kuat, sektor properti diyakini bisa kembali menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Balikpapan, terutama di tengah geliat pembangunan industri hilirisasi dan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus berlanjut. (rd)
Editor : Romdani.