KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dinamika bisnis kuliner di Samarinda kian hari kian kompetitif dengan kemunculan berbagai tempat makan baru. Mulai kafe-kafe estetis yang menawarkan menu kekinian.
Fenomena tersebut memicu pertanyaan besar bagi para calon investor maupun pelaku usaha lama. Segmen kuliner apa memiliki daya tahan paling kuat dan tahan banting di tengah guncangan ekonomi saat ini?
Konsultan bisnis sekaligus pendiri wadah inkubator Ruang Bisnis sejak 2013, Yusuf Hadi Muslim, membedah peta kekuatan bisnis kuliner ke dalam dua klasifikasi produk yang memiliki gaya tempur berbeda, yaitu produk powerful dan produk unique.
Dari pengalamannya membangun usaha sejak 2009, segmen produk powerful terbukti jauh lebih aman dan berkelanjutan.
Baca Juga: Rupiah Lesu, Toko di Singapura Kasih Diskon 10 Persen Khusus WNI Bikin Warganet Bereaksi
"Produk powerful itu adalah jenis kuliner yang sering dipakai dan dikonsumsi sehari-hari, contoh nyatanya ada pada usaha kaki lima seperti ayam goreng, nasi goreng, dan bakso. Berapa hari sih orang kita bisa bosan makan ayam goreng? Hari ini makan ayam, mungkin tiga atau empat hari lagi sudah makan ayam lagi.
Jenis makanan ini sudah tertanam kuat di memori bawah sadar konsumen sejak masa kecil, sehingga ketika melihat ayam goreng, orang tidak akan memperdebatkan itu ayam goreng apa. Keuntungannya besar karena jenis produk ini tidak membutuhkan biaya branding yang repot untuk mengenalkannya ke pasar," terang Yusuf.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa strategi memenangkan pasar produk powerful justru bukan dengan tampil berbeda atau menjadi hidden gem yang membutuhkan biaya promosi (campaign) digital yang mahal agar sering terpapar ke konsumen.
Baca Juga: Fans Berat Cristiano Ronaldo, Ketua Hipmi Balikpapan Dukung Portugal di Piala Dunia 2026
Sebaliknya, pelaku usaha disarankan menampilkan visual warung yang familier bagi memori masa lalu masyarakat. Sentuhan emosional bawah sadar inilah yang mempermudah konsumen mengambil keputusan membeli dengan cepat saat melintas di depan tempat usaha.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan karakteristik segmen produk unique seperti coffee shop dan kafe modern. Yusuf mengingatkan adanya hukum alam yang cukup kejam di ekosistem kedai kopi kekinian, di mana tingkat loyalitas konsumen sangat dipengaruhi oleh kejenuhan emosi.
"Kita harus menerima kenyataan bahwa di segmen coffee shop, orang baru itu selalu terlihat lebih menyenangkan dibandingkan orang lama yang sudah mulai membosankan. Konsumen datang ke kafe untuk menselebrasi emosi dan mencari kenyamanan emosional sesaat. Jadi kalau ada tempat baru yang lebih oke dibuka di Samarinda, kafe lama pasti langsung sepi karena massanya berpindah,” terangnya.
Dia menyebut jika caranya gampang jika ingin membuktikan. “Lihat saja kafe-kafe yang tiga tahun lalu sangat ramai, sekarang apakah masih ada? Lalu bandingkan dengan penjual nasi goreng di dekat rumah yang dari kita zaman SMP sampai sekarang gerobaknya masih eksis berdiri di sana," lanjutnya.
Bagi pengusaha yang telanjur memilih segmen coffee shop, Yusuf menekankan pentingnya membangun ikatan cerita (story) dan emosi yang kuat dengan pelanggan di luar sekadar menjual rasa kopi yang enak, agar konsumen tidak mudah berpaling ke kompetitor baru.
Di samping itu, Yusuf juga mengkritisi strategi operasional pelaku usaha dalam membagi porsi penjualan antara makan di tempat (dine-in) secara offline dengan pemesanan digital secara online lewat aplikasi daring.
Baca Juga: Incar Gen-Z, Astra Motor Kaltim 1 Bawa Motor Honda Kalcer dan Promo Melimpah di Balikpapan
Banyak pelaku usaha yang latah menyamakan harga jual di kedua saluran tersebut demi mengejar branding digital, sebuah kekeliruan yang dinilai justru dapat menurunkan kesehatan keuangan internal perusahaan.
"Gaya tempur offline dan online itu memang bisa dipakai beriringan, tapi proporsinya harus dipahami. Berdasarkan data riil, jumlah pembelian kuliner lewat online itu paling tinggi hanya berkisar di angka 15 persen, sisanya pasar terbesar tetap dikuasai oleh jalur offline. Jadi kalau Anda punya toko fisik, fokus utamanya harus tetap di offline, sementara online ditempatkan sebagai bonus pasar,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menyebut karakteristik konsumen online itu tidak mau ribet, malas keluar rumah atau kantor, dan tidak mau turun tangga.
“Karena mereka butuh kecepatan saat lapar, mereka tidak akan menawar harga. Jadi, jangan ragu menaikkan harga jual di aplikasi online hingga 60 persen atau bahkan 100 persen lebih tinggi dibanding harga offline untuk menutup potongan komisi aplikasi. Online itu tidak perlu dijadikan beban yang rumit, melainkan harus dioptimasi dengan struktur harga yang benar," pungkas Yusuf. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo