KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja bisnis di sektor Food and Beverage (F&B) atau kuliner sepanjang 2026, khususnya dari bulan Januari hingga memasuki bulan Juni, menunjukkan indikator yang penuh dilema.
Di satu sisi, produk kuliner yang masuk dalam kategori "ekonomi perut" masih menjadi sektor yang paling dinilai sangat relate untuk terus diperjuangkan oleh para pelaku usaha. Namun di sisi lain, berjuang di sektor itu tidak lagi semudah membalikkan telapak tangan karena para pengusaha dipaksa berjalan dengan napas terengah-engah.
Yusuf Hadi Muslim, konsultan bisnis yang mengaktifkan inkubator Ruang Bisnis di Samarinda sejak 2018, mengungkapkan adanya kelelahan operasional yang luar biasa di tingkat bawah jika diukur menggunakan matriks rasio kekuatan (power). Terjadi ketimpangan besar antara energi yang dikeluarkan dengan hasil bersih yang didapatkan oleh para pemilik usaha.
"Kalau dulu, untuk mencapai sebuah angka omset tertentu, katakanlah Rp5 juta, kita mungkin cukup mengeluarkan tenaga yang efisien dengan mempekerjakan tiga orang karyawan saja. Tapi sekarang, situasi di lapangan berubah total.
Buat dapetin nilai omset yang sama besar, kita harus menyisihkan energi yang luar biasa lebih banyak, menyetor modal lebih besar, dan membeli bahan baku lebih mahal. Jadi secara angka omset dan jumlah pembeli memang kelihatan naik, tapi margin keuntungan yang mereka dapatkan justru makin tipis," ungkap Yusuf.
Tekanan terbesar bagi para pelaku usaha kecil saat ini adalah kewajiban untuk menjaga agar harga makanan mereka tetap murah dan terjangkau di mata konsumen, sementara di balik layar, biaya operasional terus naik.
Yusuf mencontohkan kenaikan harga komoditas pokok seperti ayam, yang memaksa pedagang menyesuaikan Harga Pokok Penjualan (HPP). Lonjakan juga terjadi pada komponen penunjang non-makanan yang luput dari perhatian publik.
Baca Juga: Rupiah Lesu, Toko di Singapura Kasih Diskon 10 Persen Khusus WNI Bikin Warganet Bereaksi
"Ketika harga energi seperti solar naik, otomatis harga bahan bangunan hingga barang konsumsi harian ikut terkerek. Bayangkan, plastik bungkusan yang setiap hari dipakai teman-teman kaki lima untuk membungkus makanan itu sekarang harganya naik sampai 60 persen.
Nah, di sinilah kepanikan muncul. Pelaku usaha konvensional punya waktu yang sangat terbatas untuk mendapatkan literasi bisnis dan mengevaluasi usahanya. Akhirnya, keputusan-keputusan yang mereka ambil di warung bukanlah hasil dari sebuah pertimbangan matematika yang matang, melainkan hasil dari sebuah ketakutan," papar pria yang berpengalaman mendampingi pelaku F&B di berbagai kota tersebut.
Ketakutan terbesar pelaku UMKM adalah konsumen akan pergi jika harga menu dinaikkan. Menurut Yusuf, jika dihitung secara kalkulasi matematika bisnis yang rigid, harga jual kuliner di tingkat bawah saat ini idealnya sudah harus dinaikkan 20 persen dari harga normal.
Bertahannya harga murah di pasaran saat ini disebutnya bukan karena kehebatan regulasi, melainkan karena pengorbanan margin oleh pelaku usaha demi mempertahankan pelanggan.
Saat Yusuf turun langsung mendampingi para pelaku usaha di level bawah dan kaki lima, dia menemukan fakta bahwa 80 persen dari mereka tidak memiliki kemampuan dan kebiasaan untuk mencatat transaksi keuangan secara tertib.
Hal yang sama bahkan ditemukannya saat mendampingi pelaku usaha F&B food court modern di dalam mall-mall di Bandung. Sehingga minimnya data membuat evaluasi bisnis menjadi sulit dilakukan.
Baca Juga: Incar Gen-Z, Astra Motor Kaltim 1 Bawa Motor Honda Kalcer dan Promo Melimpah di Balikpapan
"Syarat utamanya, mereka harus mulai membiasakan diri untuk mencatat sesederhana mungkin. Dan pesan saya untuk teman-teman pelaku usaha, fokus tahun 2026 ini bukan lagi soal pertumbuhan (growth) atau mengejar omset besar.
Tahun ini adalah waktunya melakukan cost efficiency (efisiensi biaya) dan memperdalam fondasi bisnis. Jangan memaksakan diri mengejar 400 transaksi dalam sehari jika harus menambah biaya SDM dan energi yang menguras margin. Lebih baik fokus pada 100 transaksi sehari namun dengan ketepatan penghitungan yang matang,” tegas Yusuf. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo