Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari Kelas Ibu-Ibu hingga Tembus IKN, Bisnis Bunga Kawat Bulu Ini Kini Bidik Pasar Premium Instansi

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 6 Juni 2026 | 19:11 WIB
KELAS: Tak hanya produk, mereka juga menjual pengalaman dan pengetahuan mengenai kreasi merangkai bunga lewat kolaborasi dan kelas workshop.
KELAS: Tak hanya produk, mereka juga menjual pengalaman dan pengetahuan mengenai kreasi merangkai bunga lewat kolaborasi dan kelas workshop.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Menemukan ceruk pasar yang tepat adalah seni tersendiri dalam dunia wirausaha. Strategi jitu inilah yang berhasil diterapkan oleh Munawaroh dan Erry Nuranisah dalam membesarkan Love Flower.

Ketika mayoritas toko bunga konvensional menggantungkan omzet mereka pada musim kelulusan (graduation) anak-anak muda atau mahasiswa, duo ibu rumah tangga ini justru memilih jalan berbeda. Mereka membidik pasar kelompok ibu-ibu dan berhasil menciptakan ekosistem pelanggan yang sangat loyal.

Strategi pemasaran dimulai dari penguatan jaringan terdekat. Saat menggelar acara pembukaan studio pada 20 Juli tahun lalu, mereka tidak menyebar brosur secara acak, melainkan mengundang rekan komunitas pengajian, hingga anggota keluarga besar.

Konsep undangannya pun dibuat interaktif dan dibagi menjadi beberapa sesi dari pagi hingga malam hari. "Karena tempatnya kecil semi studio, undangannya kami bagi per sesi bergantian keluar masuk sampai malam. Di sana mereka boleh merangkai bunga sendiri dan kami buatkan kegiatan bikin gantungan tas. Dari situ awalnya," tutur Erry Nuranisah menjelaskan strategi awal pemasaran mereka.

Baca Juga: Tak Sekadar Wacana, Munawaroh & Erry Nuranisah Sulap Hobi Merangkai Bunga Jadi Bisnis

Aktivitas interaktif itu ternyata membekas di hati para tamu. Atas saran dari teman-teman yang hadir, studio mulai membuka kelas reguler bertajuk Mom and Kids. Melalui promosi dari mulut ke mulut dan unggahan di media sosial, permintaan kelas privat pun terus berdatangan. Kreasi mereka pun berkembang pesat, merambah ke bando, jepit rambut, tali pengikat gorden, hingga hampers kurma.

Secara operasional, Muna dan Erry mengadopsi konsep unik dari toko bunga rajut (crochet) yang ada di Vietnam dan Thailand. Studio mereka didesain sebagai mini studio, di mana pelanggan dibebaskan untuk datang, menyentuh langsung material, memilih sendiri jenis bunganya, dan merangkainya ke dalam vas yang telah disediakan.

Konsep itu ternyata sangat disukai oleh kaum ibu yang mencari aktivitas di sela kesibukan domestik. Khusus untuk bunga segar, studio memberlakukan sistem pre order yang datang setiap Kamis sore demi menjaga kualitas.

Baca Juga: Ekonomi Melambat, Tapi Coffee Shop Tetap Ramai! Mercure dan Ibis Samarinda Siapkan Dua Outlet Baru

"Konsep kami ini memang mini studio. Jadi dari awal setiap kali orang datang atau kami mengisi kelas, kami selalu ngomong ke audiens kalau kalian boleh datang ke sini dan sentuh langsung bunganya. Kalau di toko lain kan biasanya dilayani karyawan, kalau di sini silakan rasakan sendiri. Mau santai healing lihat bunga sendiri itu silakan," jelas Muna.

Keberhasilan mempertahankan kualitas dan keunikan konsep membawa bisnis mereka merambah ke level yang lebih tinggi. Memasuki Desember tahun lalu, mereka mulai kebanjiran undangan kolaborasi dari berbagai instansi. Dimulai dari pengisian acara untuk bank, mereka kemudian direkomendasikan untuk mengisi lokakarya se-Kaltim.

Tak hanya itu, kelompok istri pejabat pun sempat mendatangkan mereka secara khusus untuk menggelar kelas privat merangkai vas mini tulip dari kawat bulu selama dua jam. Hingga komunitas ibu-ibu arisan. Jangkauan produk mereka bahkan telah menembus wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) saat momen perayaan 17 Agustus tahun lalu.

Menanggapi pesanan premium tersebut, Muna dan Erry merancang sebuah rangkaian khusus yang mereka beri nama ‘Puspa Khatulistiwa’. Kehebatan bisnis terletak pada pembagian kerja internal yang profesional berkat latar belakang profesi mereka terdahulu.

Erry, yang merupakan mantan pekerja keuangan di Jakarta, memegang kendali penuh atas manajemen administrasi, keuangan, penyuntingan video konten, serta produksi kawat bulu (pipe cleaner). Sementara Muna bertindak sebagai garda depan yang mengurusi pemasaran, promosi, menjadi pembicara utama di setiap acara lokakarya, serta mengelola divisi bunga segar.

"Pembagian tugas itu sesuai dengan background kami masing-masing waktu kerja dulu. Mbak Ery bagian keuangan dan matematika banget, jadi dia di balik layar untuk administrasi dan editing video. Saya biasanya lebih ke bagian marketing, promosi, dan cuap-cuap kalau ada event. Jadi kalau sudah ada job, kami sudah tahu jalan sendiri-sendiri dan saling mengisi," urai Muna mengenai sistem kerja internal mereka.

Baca Juga: Jangan Sampai Boncos, Ini Siasat Efisiensi untuk Pelaku F&B Samarinda di Semester Kedua 2026

Meskipun jadwal kolaborasi kian padat hingga mendapatkan permintaan jastip dan titik distribusi (drop point) dari pelanggan setia di Tenggarong, keduanya tetap berkomitmen menjaga keseimbangan keluarga.

Studio hanya beroperasi secara fleksibel mengikuti jam sekolah anak, yakni dari jam 10 pagi hingga 3 sore. Sabtu dan Minggu pun dibebaskan dari aktivitas produksi massal agar mereka tetap bisa menikmati waktu bersama suami dan anak-anak di rumah.

"Suami sangat mendukung karena kami enggak memakai jatah waktu keluarga. Waktunya memang pakai waktu free yang awalnya cuma di rumah untuk scroll handphone, sekarang dijadikan kegiatan yang menghasilkan. Weekend kecuali kalau memang ada undangan mengisi event yang cuma makan waktu 2 sampai 3 jam. Sehabis itu kami langsung balik untuk bersama keluarga. Jadi tidak ada komplain, malah sangat didukung," ungkap Muna mengakhiri obrolan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#bisnis bunga Samarinda #Love Flower #bunga kawat bulu #workshop merangkai bunga #bisnis kreatif UMKM