KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Struktur ketergantungan industri manufaktur dan operasional perusahaan di Kalimantan Timur terhadap pasokan luar negeri makin mempertegas posisinya.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim melansir postur impor Bumi Etam sepanjang Januari hingga April 2026 masih dikuasai oleh kelompok bahan baku atau penolong yang porsinya menyentuh angka 96,85 persen atau setara USD2.379,25 juta.
Dominasi bahan baku jauh melampaui kelompok penggunaan barang lainnya. Sebagai pembanding, kelompok barang modal hanya mengambil andil 3,08 persen atau senilai USD75,63 juta.
Sementara impor barang konsumsi masyarakat berada di posisi paling bawah dengan 0,07 persen atau USD1,62 juta saja. Jika dilihat secara bulanan (month-to-month), seluruh lini penggunaan barang sebenarnya kompak merangkak naik pada April 2026 dibanding Maret 2026.
Baca Juga: 85 Pelaku Kejahatan Ditangkap, Kapolda Kaltim Ungkap Dampak Besarnya bagi Ekonomi
"Terjadi peningkatan impor pada golongan barang konsumsi 60,00 persen, peningkatan impor pada golongan bahan baku/penolong sebesar 33,50 persen, dan peningkatan impor pada golongan barang modal 14,55 persen," jelas Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai.
Kendati demikian, potret berbeda langsung terlihat begitu performa tersebut diadu secara tahunan (year-on-year) dengan April 2025. Mas’ud menyebutkan bahwa geliat belanja modal korporasi di Kaltim turun cukup dalam.
"Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, terjadi penurunan impor pada golongan barang modal 52,18 persen. Untuk golongan bahan baku/penolong mengalami kenaikan 144,10 persen. Nilai impor golongan barang konsumsi April 2026 tidak terdapat perbedaan signifikan jika dibandingkan dengan April 2025," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo