KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Momentum pembangunan di Kalimantan yang makin masif dimanfaatkan PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) untuk memperluas bisnisnya ke sejumlah sektor baru yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
Perusahaan yang selama lebih dari empat dekade dikenal sebagai produsen gas industri tersebut kini tidak hanya fokus pada distribusi acetylene, oxygen, nitrogen, argon dan karbon dioksida, tetapi juga mulai memasuki sektor material konstruksi, perdagangan bahan bangunan, logistik khusus dan pengelolaan limbah B3.
Direktur Utama SBMA Rini Dwiyanti mengatakan, pengembangan usaha tersebut merupakan langkah strategis untuk menangkap peluang ekonomi yang berkembang di Kalimantan. “Melalui penambahan KBLI tersebut, Perseroan membuka peluang ekspansi usaha pada sektor bahan bangunan, perdagangan besar material konstruksi, pengolahan limbah B3, serta layanan logistik dan distribusi tabung gas,” ungkapnya akhir pekan lalu.
Baca Juga: Harga Kopi Naik, Tapi Pelanggan 28 Coffee Malah Tak Surut! Ini Rahasianya
Menurut Rini, potensi pasar Kalimantan masih sangat besar, terutama didorong pertumbuhan industri, energi, pertambangan, manufaktur serta pembangunan infrastruktur. SBMA yang berdiri sejak 1980 di Balikpapan menilai diversifikasi usaha menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Saat ini perusahaan tengah mengembangkan fasilitas produksi paving block yang akan menjadi salah satu lini usaha baru di sektor bahan bangunan. Selain itu, perusahaan juga mempersiapkan dukungan logistik khusus melalui pengurusan izin pengangkutan B3 untuk mendukung distribusi gas industri secara lebih terintegrasi.
Manajemen meyakini strategi tersebut akan memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain industri yang tidak hanya menjual produk gas, tetapi juga menyediakan berbagai layanan pendukung bagi sektor industri di Kalimantan. "Dengan ekspansi yang dilakukan, perusahaan berharap mampu menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka panjang," tuturnya.
Baca Juga: Proyek Rel Rp 25 Triliun Dimulai dari Kaltara, Target Tersambung hingga IKN
Sementara itu, pada kuartal pertama 2026, SBMA berhasil menjaga stabilitas pendapatan meski laba bersih mengalami penurunan akibat sejumlah faktor non-operasional yang bersifat sementara. “Stabilnya pendapatan perseroan ditopang oleh aktivitas pelanggan existing yang masih berjalan cukup baik, khususnya pada sektor industri, energi, konstruksi dan pelanggan strategis Kalimantan,” kata Wakil Direktur Utama SBMA Welly Sumanteri.
Dan, hingga 31 Maret 2026 perusahaan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 31,41 miliar. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 32,48 miliar. Meski pendapatan terjaga, laba bersih pada kuartal pertama tercatat sebesar Rp 241 juta.
Menurut Welly, penurunan laba lebih banyak dipengaruhi faktor timing pengakuan pendapatan dan peningkatan sejumlah biaya operasional strategis yang telah dibebankan pada periode berjalan. Salah satu faktor yang memengaruhi laba adalah adanya outstanding invoice senilai sekitar Rp 1,8 miliar pada salah satu proyek strategis yang secara operasional telah selesai dikerjakan namun belum dapat diakui sebagai pendapatan karena masih dalam proses administrasi penagihan. (*)