KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) mulai mempercepat strategi diversifikasi usaha di luar bisnis inti gas industri. Dalam Public Expose 2026, manajemen mengungkapkan sejumlah bidang usaha baru yang telah mendapatkan persetujuan pemegang saham dan kini memasuki tahap implementasi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperluas sumber pendapatan sekaligus memperkuat daya saing di tengah dinamika industri gas yang semakin kompetitif.
Direktur Utama SBMA Rini Dwiyanti menjelaskan bahwa perusahaan telah memperoleh persetujuan pemegang saham terkait penambahan dan penyesuaian Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 10 November 2025.
“Langkah ini merupakan bagian dari business diversification strategy Perseroan untuk memperluas portofolio usaha, mengoptimalkan potensi pasar di Kalimantan, serta memperkuat daya saing Perseroan di tengah dinamika industri gas yang semakin kompleks dan kompetitif,” ungkap Rini, Jumat (5/6).
Baca Juga: SBMA Ekspansi Bisnis ke Material Konstruksi, Bidik Peluang Besar di Kalimantan
Penambahan KBLI tersebut mencakup perdagangan besar bahan dan barang kimia, industri kimia dasar anorganik gas industri, industri bahan bangunan, perdagangan besar bahan bangunan, pengolahan limbah B3, hingga layanan logistik dan angkutan barang khusus.
Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah pembangunan fasilitas produksi paving block yang menjadi bagian dari ekspansi sektor bahan bangunan. Hingga saat ini progres pembangunan fasilitas tersebut telah mencapai sekitar 40 persen dan ditargetkan selesai sebelum akhir 2026.
Selain itu, perusahaan juga sedang mengurus perizinan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun (B3) untuk mendukung distribusi gas bertekanan dan mudah terbakar sesuai ketentuan yang berlaku.
"Manajemen menilai sektor bahan bangunan memiliki prospek yang menjanjikan seiring pertumbuhan pembangunan infrastruktur di Kalimantan, khususnya setelah pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang memicu peningkatan kebutuhan material konstruksi," jelasnya.
Baca Juga: Harga Kopi Naik, Tapi Pelanggan 28 Coffee Malah Tak Surut! Ini Rahasianya
Berdasarkan studi kelayakan dan penilaian bisnis internal perusahaan, usaha baru tersebut diproyeksikan memberikan dampak positif terhadap arus kas operasional perusahaan.
Perusahaan memperkirakan rasio modal kerja terhadap total aset dapat meningkat menjadi 31,69 persen. Sementara arus kas operasional diproyeksikan mulai menunjukkan tren positif sejak tahun ketiga implementasi proyek.
Dari sisi investasi, proyek diversifikasi tersebut menghasilkan Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp6,35 miliar, Internal Rate of Return (IRR) 19,21 persen, lebih tinggi dibanding discount rate sebesar 10,38 persen, serta Profitability Index (PI) sebesar 1,28.
“Perseroan optimistis bahwa strategi diversifikasi usaha ini dapat menjadi salah satu fondasi pertumbuhan berkelanjutan perusahaan di masa depan,” kata Rini.
Dengan basis operasional yang telah tersebar di berbagai wilayah Kalimantan, SBMA berharap dapat memanfaatkan peluang pasar yang lebih luas dan mengurangi ketergantungan terhadap satu segmen usaha. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo