KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kenaikan tarif transportasi menjadi faktor terbesar yang mendorong inflasi Balikpapan pada Mei 2026 menjadi 2,75 persen (year on year/yoy). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil mencapai 1,01 persen. Angka tersebut jauh melampaui kelompok pengeluaran lainnya.
Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama mengatakan tekanan harga di sektor transportasi terutama dipicu kenaikan tarif angkutan udara dan sejumlah komponen pendukung mobilitas masyarakat. Data BPS menunjukkan kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan sebesar 7,50 persen. Selain tarif angkutan udara, beberapa komoditas lain yang memberikan sumbangan inflasi.
Antara lain tarif kendaraan travel, bensin, solar, dan pelumas atau oli mesin. Meski demikian, laju inflasi Balikpapan masih berada pada rentang sasaran nasional dan lebih rendah dibandingkan puncak inflasi yang sempat terjadi pada awal tahun.
Secara bulanan, inflasi Balikpapan pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,27 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) mencapai 1,37 persen.
Baca Juga: Kadin Balikpapan Minta Pelaku Usaha Tak Panik Hadapi Tarif PPh Badan 22 Persen
Marinda menjelaskan kenaikan harga pada sektor transportasi menunjukkan tingginya aktivitas masyarakat dan mobilitas perjalanan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. "Kenaikan tarif transportasi menjadi salah satu faktor yang paling dominan dalam pembentukan inflasi bulan ini," katanya.
Selain transportasi, kelompok makanan, minuman dan tembakau turut memberikan andil sebesar 1,09 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,62 persen terhadap inflasi tahunan. Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi, seperti perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat deflasi 0,86 persen.
Kelompok pakaian dan alas kaki juga mengalami penurunan sebesar 0,53 persen. "Kondisi tersebut menunjukkan inflasi Balikpapan saat ini masih terkendali meskipun terdapat tekanan harga pada sektor-sektor tertentu," ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo