KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Gejolak nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk di Kalimantan Timur.
Meski sebagian besar kebutuhan pangan daerah masih dipasok dari dalam negeri, pelemahan rupiah tetap berpotensi memberi tekanan terhadap harga pangan melalui kenaikan biaya distribusi dan logistik.
Ekonom Senior Bank Indonesia (BI) Kaltim Azhari Novy Sucipto menjelaskan, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Menurutnya, kondisi geopolitik global hingga meningkatnya kebutuhan valuta asing menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar.
“Dapat kami sebutkan bahwa memang sebenarnya tekanan rupiah yang kita alami dalam beberapa waktu belakangan ini banyak dipengaruhi oleh gejolak eksternal. Utamanya gejolak geopolitik yang berada di Timur Tengah,” ujar pria yang dipanggil Ovy itu.
Baca Juga: Bertahun-Tahun Terendam Banjir, Revitalisasi SMPN 24 Samarinda Masih Terkendala Anggaran
Selain itu, kata dia, terdapat permintaan valuta asing yang meningkat secara musiman, terutama untuk kebutuhan utang luar negeri dan repatriasi dividen. Kondisi tersebut ikut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, Ovy menilai dampaknya terhadap pasokan pangan di Kaltim tidak terjadi secara langsung. Sebab, sebagian besar kebutuhan pangan daerah masih berasal dari daerah lain di Indonesia, bukan dari luar negeri.
“Dapat kami sampaikan bahwa memang sebenarnya saat ini neraca pangan kita atau pasokan pangan kita sebagian besar masih didominasi atau pasokannya berasal dari domestik. Jadi sangat minim khususnya untuk pasokan yang berasal dari impor atau luar negeri,” katanya.
Oleh sebab itu, ancaman yang perlu diwaspadai justru berasal dari sektor distribusi. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kaltim Ali Wardana mengatakan pelemahan rupiah dapat memengaruhi biaya operasional transportasi yang digunakan untuk mendatangkan bahan pangan ke Kaltim.
Baca Juga: PHK Tambang Meningkat, DPRD Dorong Job Fair dan Modal Usaha Tanpa Bunga
“Biaya logistik pasti akan berpengaruh dari melemahnya rupiah itu akan membawa dampak kepada biaya logistik karena operasional daripada alat angkutnya itu berdasarkan dolar,” ujarnya.
Menurut Ali, kenaikan biaya tersebut pada akhirnya akan masuk ke harga barang yang diterima masyarakat. “Pada ujung-ujungnya akan menambah biaya di produk dan itu pada akhirnya akan ke konsumen,” lanjutnya.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BI Kaltim bersama pemerintah daerah terus memantau kondisi pasokan pangan.
Ovy menegaskan pihaknya saat ini berupaya memastikan ketersediaan komoditas tetap terjaga agar tekanan terhadap inflasi pangan tidak semakin besar. “Kami saat ini sedang memastikan pasokan pangan di Kaltim tetap terjaga,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo