Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Rupiah Loyo dan Logistik Mahal, Pengusaha Kaltim Dihimpit Biaya Produksi hingga Masuk Fase 'Ngeri-Ngeri Sedap'!

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 17 Juni 2026 | 19:07 WIB
GEJOLAK: Pengusaha menghadapi tekanan mulai dari meningkatnya impor bahan baku hingga tuntutan kenaikan upah karena harga kebutuhan meningkat.
GEJOLAK: Pengusaha menghadapi tekanan mulai dari meningkatnya impor bahan baku hingga tuntutan kenaikan upah karena harga kebutuhan meningkat.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Gejolak ekonomi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan pelaku usaha di Kalimantan Timur. Kenaikan biaya operasional hingga ketidakpastian kondisi global membuat dunia usaha harus berhitung lebih cermat agar tetap bertahan.

Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPP Apindo) Kaltim Abriantinus mengatakan pelemahan rupiah dan inflasi pangan menjadi tantangan yang tidak bisa dipandang ringan. Menurutnya, dunia usaha saat ini menghadapi tekanan dari berbagai arah secara bersamaan.

“Kalau kita bicara masalah inflasi memang terus terang di dalam dunia usaha pada saat ini cukup ngeri-ngeri sedap. Karena kita sedang dihadapkan dengan efek dari geopolitik internasional yang semakin tidak menentu, kemudian kondisi juga yang ada di dalam negara kita,” terangnya.

Dia menjelaskan, pelemahan rupiah berdampak terhadap meningkatnya biaya impor bahan baku yang digunakan berbagai sektor usaha. Kondisi tersebut pada akhirnya menambah beban operasional perusahaan.

Baca Juga: BPK Bongkar Skandal Anggaran di Kukar: Satu ASN Terima Honor 900 Kali Setahun Senilai Rp 9,5 Miliar!

“Pelemahan rupiah ini sangat akan menekan dunia usaha. Secara umum beban impor bahan baku meningkat, terutama berkaitan dengan kegiatan atau operasional usaha di Kaltim,” katanya. Menurut Abriantinus, pelaku usaha kini berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi biaya terus meningkat, namun di sisi lain kemampuan masyarakat untuk menyerap kenaikan harga juga terbatas.

“Kalau kita tidak menaikkan harga itu juga berpengaruh nanti kepada cash flow dari perusahaan itu sendiri,” lanjutnya. Tekanan tersebut diperberat oleh tingginya biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan utama Bumi Etam. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah membuat biaya distribusi ikut menentukan harga berbagai kebutuhan.

“Bila pasokan pangan masuk dari luar daerah itu memakai input impor, maka pelemahan rupiah ini bisa cepat memicu kenaikan harga di pasar lokal sendiri, terutama saat stoknya memang semakin ketat,” tuturnya.

Kondisi itu dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga tenaga kerja. Menurut Abriantinus, kenaikan harga kebutuhan pokok berpotensi memunculkan tuntutan kenaikan upah yang semakin menambah beban dunia usaha.

Baca Juga: Pasokan Pangan Kaltim Didominasi Domestik, Biaya Logistik Tetap Jadi Ancaman

“Kalau sudah bicara ketenagakerjaan ini, maka itu juga nanti akan berpengaruh karena kenaikan harga pangan dan bahan-bahan pokok ini pasti mempengaruhi kemungkinan juga dari kawan-kawan pekerja menuntut kenaikan upah,” katanya.

Dia mengakui langkah efisiensi menjadi salah satu opsi yang biasanya ditempuh perusahaan saat tekanan ekonomi meningkat. Namun, pihajnya mendorong agar pemutusan hubungan kerja menjadi pilihan terakhir.

“Kami juga sedang konsolidasi dengan kawan-kawan pengusaha terutama anggota Apindo. Kami berupaya bagaimana untuk menekan ini supaya pemutusan hubungan kerja itu dalam tahap terakhir,” tutupnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Ekonomi Kaltim #Pengusaha Kaltim #Apindo Kaltim