Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

IKN Usung Smart City hingga Sponge City, Ini Dampaknya ke Ekonomi Nasional

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 17 Juni 2026 | 19:32 WIB
RAMAH LINGKUNGAN: Pemerintah menegaskan sebagian besar kawasan IKN akan tetap didominasi ruang hijau sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.
RAMAH LINGKUNGAN: Pemerintah menegaskan sebagian besar kawasan IKN akan tetap didominasi ruang hijau sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Ketika banyak proyek pembangunan identik dengan beton dan gedung pencakar langit, konsep yang diterapkan di Ibu Kota Nusantara (IKN) justru berbeda.

Pemerintah menegaskan bahwa sebagian besar kawasan IKN akan tetap didominasi ruang hijau sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Konsep tersebut dinilai berpotensi melahirkan peluang ekonomi baru yang tidak hanya berasal dari sektor konstruksi, tetapi juga dari industri lingkungan, teknologi digital dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Juru Bicara Otorita IKN Troy Pantouw mengungkapkan, pembangunan Nusantara dilakukan dengan pendekatan yang mengedepankan prinsip hijau dan keberlanjutan.

Baca Juga: Pembangunan IKN Tahap Kedua Dikebut, Proyek Triliunan Rupiah Menanti Pengusaha

Menurutnya, terdapat tiga visi utama yang menjadi fondasi pembangunan IKN, yakni smart city, forest city dan sponge city. Ketiga konsep tersebut dirancang agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.

"Kami terus menjalankan pembangunan sesuai kaidah-kaidah hijau. Ada tiga visi IKN yaitu smart city, forest city dan sponge city. Ini yang terus kami jalankan secara konsisten," sebutnya.

Troy menjelaskan salah satu konsep yang paling menonjol adalah forest city. Berbeda dengan pembangunan perkotaan konvensional, porsi kawasan yang digunakan untuk pembangunan fisik di IKN relatif kecil dibandingkan area hijau yang dipertahankan.

Menurutnya, pembangunan konstruksi hanya mengambil sebagian kecil kawasan, sementara sebagian besar area diperuntukkan bagi pemulihan ekosistem dan penghijauan.

Baca Juga: Parah! Polres Berau Bongkar Peredaran Sabu-Sabu Seberat 8 Kilogram yang Diduga Dikendalikan dari Lapas Tarakan, Empat Pelaku Turut Diringkus

"Sekitar 10 persen adalah pembangunan konstruksi fisik. Sisanya lebih kepada forest city. Bagaimana kita menerapkan aspek lingkungan, melakukan penanaman kembali dan menghutankan kawasan," katanya.

Pendekatan tersebut membuka peluang ekonomi baru pada sektor lingkungan hidup. Aktivitas rehabilitasi kawasan, pengembangan bibit tanaman, jasa pengelolaan hutan, konservasi hingga perdagangan karbon diperkirakan akan berkembang seiring pembangunan Nusantara.

Otorita IKN bahkan mengusung konsep rewilding atau mengembalikan fungsi alami kawasan melalui penanaman dan pemulihan ekosistem.

"Kalau istilahnya Pak Kepala Otorita adalah rewilding, bagaimana menghutankan kembali kawasan agar kembali seperti alam yang sesungguhnya," jelas Troy.

Selain forest city, konsep smart city juga menjadi pilar penting pembangunan. Seluruh kawasan dirancang berbasis teknologi digital untuk mendukung pelayanan publik yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Hal tersebut menciptakan peluang besar bagi perusahaan teknologi informasi, pengembang sistem digital, penyedia jaringan telekomunikasi hingga industri kecerdasan buatan. "Smart city berarti pembangunan IKN memperhatikan unsur teknologi dan digital di dalamnya," katanya.

Baca Juga: Rupiah Loyo dan Logistik Mahal, Pengusaha Kaltim Dihimpit Biaya Produksi hingga Masuk Fase 'Ngeri-Ngeri Sedap'!

Sementara itu, konsep sponge city difokuskan pada pengelolaan sumber daya air dan pengendalian iklim kawasan. Salah satu implementasinya dilakukan melalui pembangunan embung dan sistem tata air yang mampu meningkatkan daya serap lingkungan terhadap air hujan.

Konsep ini diharapkan mampu menjaga kualitas lingkungan sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim di kawasan perkotaan. "Embung yang dibangun berkaitan dengan upaya menjaga kondisi iklim kawasan agar lebih baik dan membantu mengurangi dampak lingkungan," tutur Troy.

Dengan kombinasi tiga konsep tersebut, IKN tidak hanya diposisikan sebagai pusat pemerintahan baru Indonesia, tetapi juga laboratorium ekonomi hijau yang berpotensi menjadi model pembangunan perkotaan masa depan.

"Jika berjalan sesuai target, IK. tidak hanya menciptakan permintaan pada sektor konstruksi, tetapi juga membuka pasar baru bagi industri teknologi, energi bersih, jasa lingkungan dan berbagai usaha berbasis keberlanjutan yang selama ini belum berkembang secara optimal di Indonesia," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#IKN ekonomi hijau #konsep IKN #forest city IKN #pembangunan berkelanjutan #Otorita IKN