Minat memasak Chef Daus, sapaan karibnya timbul ketika duduk dibangku SD dan SMP. Rasa penasarannya pun menuntunnya untuk mengambil jurusan Tata Boga di SMK Plus Melati pada 2012. Tiga tahun setelah lulus, Daus melanjutkan pendidikan ke IONS Akademi Culinary di Jogja, mengambil program Diploma 1 Culinary Business selama satu tahun.
Dari sinilah jalan hidupnya mulai terarah ke dunia pastry. Lulus kuliah, Daus memulai kariernya di Hotel Neo Plus by Aston Jogja (kini Neo Awana) selama setahun. Setelah itu, ia pindah ke Jakarta dan bekerja di Novotel Gajah Mada selama kurun waktu yang sama. "Memang perjalanan karier saya itu tidak pernah sampai dua atau tiga tahun di satu tempat. Rata-rata setahun-setahun," ujarnya.
Baca Juga: Buka Jurusan Produksi Film Pertama di Kaltim, SMK 19 Samarinda Terima 36 Siswa Baru
Dari Jakarta, atas rekomendasi beberapa chef, Daus mencoba peruntungan ke Malaysia dan diterima di hotel bintang lima lokal, Grand Alora. Sepanjang perjalanan kariernya di Neo, Novotel, hingga Grand Alora, Daus konsisten berada di bagian pastry.
Posisinya pun perlahan naik, dari Commis 3 di level paling bawah, menjadi Commis 2, hingga akhirnya Commis 1 saat di Malaysia. Setelah hampir dua tahun di Negeri Jiran, Daus memutuskan pulang ke Samarinda dan sempat mencoba peruntungan lain dengan berjualan pizza murah dan donat isi pada 2018.
Usaha itu sempat ramai karena disuplai ke kampus-kampus, termasuk Politeknik Negeri Samarinda, namun akhirnya tutup karena harga bahan baku terus naik sementara harga jual tidak bisa dinaikkan mengingat target pasarnya mahasiswa dan anak SMA.
Akhir 2018, Daus mencoba jalur lain: bekerja ke luar negeri melalui agensi di Bogor. Setelah berjuang di Malaysia, ia diterima bekerja di Oman lewat wawancara via WhatsApp. Visa kerjanya baru turun pada Desember 2019 dan ia resmi berangkat ke Oman menjelang pergantian tahun.
Baca Juga: Masuk SMK Ingin Kerja? Lulusan Justru Banyak yang Pilih Kuliah
Di Oman, Daus memulai karier di perusahaan donat bernama Dice, lalu ikut terlibat dalam pengembangan menu saat perusahaan tersebut membuka coffee shop baru bernama Cloud pada 2020. Dari sinilah kariernya melesat. Setelah pemilik perusahaan menemukan latar belakang pastry-nya lewat CV, Daus dipercaya ikut membangun menu Cloud bersama dua rekan lain.
Tak berhenti di situ, perusahaan kemudian membuka brand es krim bernama It's Softy pada 2021, sekaligus mulai menjual produk dessert yang sedang tren seperti San Sebastian Cheesecake atau yang kini dikenal sebagai Burn Cheesecake.
Karena dedikasinya, Daus dipercaya naik jabatan menjadi Assistant Pastry Chef, hanya satu tingkat di bawah Executive Pastry Chef. Saat itu ia ikut mengawasi tiga brand sekaligus, yakni Dice Donut, Cloud, dan It's Softy, dengan total lima outlet yang terus berkembang hingga rencana ekspansi ke Uni Emirat Arab.
Meski kariernya di Oman terbilang moncer, Daus memilih pulang ke Indonesia setelah lebih dari dua tahun di sana. "Sebagai orang yang juga memahami manajemen, saya melihat perusahaan tidak akan bertahan lama jika pola pengelolaannya tidak berubah. Menurut saya ada kesalahan mendasar dari pemilik perusahaan dalam memperlakukan karyawan dan mengelola hak-hak pekerja," katanya.
Ia pulang ke Samarinda di tengah masa pandemi Covid-19 yang membuat perjalanan kala itu tidak mudah. Sepulangnya, Daus tidak langsung berhenti berkarya. Pengalaman panjangnya di dunia pastry lintas negara itu pula yang kemudian menjadi modal utama saat ia memutuskan membangun usaha sendiri di Samarinda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo