Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari 25 Kg Tepung Sisa MBG, Chef Daus Bangun Usaha Roti Viral di Samarinda

Nasya Rahaya • Sabtu, 20 Juni 2026 | 19:24 WIB
PERCAYA DIRI: Chef Daus saat berada di dapur produksinya. Pengalaman lebih dari dua tahun bekerja di Oman menjadi modal utama dalam mengembangkan usaha kuliner di Samarinda.
PERCAYA DIRI: Chef Daus saat berada di dapur produksinya. Pengalaman lebih dari dua tahun bekerja di Oman menjadi modal utama dalam mengembangkan usaha kuliner di Samarinda.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Awal 2026, Ahmad Firdaus alias Daus sempat ikut menyediakan roti untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Belum sempat berjalan lama, program itu dihentikan dari pusat. Persoalannya, ia sudah terlanjur belanja bahan baku, salah satunya tepung 25 kilogram yang akhirnya menumpuk tak terpakai.

Dari pada dibiarkan, tepung itu ia olah jadi melon pan. Dari situlah usaha Ur Hommie Bakery bermula. "Bisa dibilang lahirnya usaha ini sebenarnya karena accidentally," ujarnya.

Melon pan dipilih bukan asal-asalan. Kue asal Jepang ini punya ciri khas yang menurut Daus jarang ditemui: bagian luarnya renyah seperti cookies, tapi begitu digigit, di dalamnya tetap roti yang lembut. "Kalau orang bingung mau makan roti atau cookies, melon pan menawarkan keduanya sekaligus. Jadi orang bisa mendapatkan dua tekstur dalam satu gigitan," jelasnya.

Baca Juga: Awalnya Cuma Suka Makan, Pria Samarinda Ini Sukses Jadi Pastry Chef hingga Oman

Sebenarnya, Daus sudah bereksperimen dengan roti sejak 2024, mulai dari roti manis sampai melon pan. Tapi hasilnya belum sesuai standar yang ia mau, karena beberapa bahan baku yang dibutuhkan belum tersedia di Samarinda. Sementara kalau harus pesan dari Jakarta, ongkos kirimnya pasti mahal. "Akhirnya sepanjang 2025 saya fokus riset bahan baku dan mencari pemasok yang sesuai," katanya.

Sebelum fokus ke roti, Daus pernah membuka kedai kopi The Backyard di Antasari selama dua tahun. Usaha itu akhirnya tutup karena persaingan bisnis kopi di Samarinda makin ketat. Belakangan ia sadar, kekuatannya memang ada di pastry, bukan kopi.

Penjualan pertama Ur Hommie Bakery hanya 18 pieces, dengan tiga varian: original, cokelat, dan cream cheese. Varian original yang paling banyak diburu pembeli saat itu. Setelah mulai pasang Instagram Ads, pesanan ikut naik. Bahkan suatu hari Daus sampai menutup pesanan lebih awal karena satu pelanggan langsung order 48 pieces, sementara dapurnya belum sanggup produksi sebanyak itu.

Hampir dua bulan jualan lewat Instagram, Daus mulai turun ke Car Free Day membawa 12 sampai 18 pieces setiap kali jualan. "Tujuannya bukan mencari keuntungan besar, tetapi membangun kepercayaan. Supaya orang tahu bisnis ini benar-benar ada, bukan hanya muncul di media sosial," katanya.

Baca Juga: Masuk SMK Ingin Kerja? Lulusan Justru Banyak yang Pilih Kuliah

Ia juga mengirim sampel ke beberapa kafe, sampai akhirnya deal kerja sama dengan Rapi-Rapi Kopi di Juanda, Samarinda. Pelanggan yang mau beli offline kini bisa langsung datang ke sana.

Dia menyebut, pengalamannya di Oman justru jadi tantangan tersendiri saat membangun bisnis roti di Samarinda. Di sana, masyarakat doyan makanan manis sampai donat pun jadi menu sarapan. "Kalau resep yang sama dibawa ke Samarinda, pasti dianggap terlalu manis," katanya.

Karena itu Daus beberapa kali trial sampai menemukan tingkat kemanisan yang pas untuk lidah orang Samarinda. Untuk sekarang, ia masih fokus di melon pan dulu, biar masyarakat kenal Ur Hommie Bakery lewat produk itu. Ke depan, ia berencana menambah menu cake dessert, salah satunya yang berbahan saffron. Daus juga terbuka kalau ada kafe atau pelaku usaha lain yang mau kolaborasi. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Ur Hommie Bakery #Chef Daus Samarinda #Usaha roti Samarinda #Bisnis kuliner Samarinda #UMKM Samarinda