KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Cara masyarakat menikmati wisata mulai berubah. Jika dahulu orang datang untuk melihat tempat baru dan berfoto, kini pengunjung lebih mencari pengalaman yang bisa dibawa pulang sebagai kenangan.
Hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Samarinda Saddam Husein, dia menilai perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengelola destinasi wisata. Menurutnya, tempat wisata tidak lagi cukup hanya menawarkan pemandangan atau fasilitas semata. “Destinasi itu menawarkan meaningful,” tegasnya.
Dia membandingkan pengalaman menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan dengan di destinasi wisata. Menurutnya, keduanya mungkin sama-sama memakan waktu beberapa jam, tetapi menghasilkan kesan yang berbeda. “Sama-sama empat jam, tapi empat jam pengalaman di destinasi itu punya cerita yang dibawa pulang,” katanya.
Saddam mencontohkan aktivitas sederhana seperti memberi makan ikan, bermain di area terbuka, atau menikmati suasana alam bersama keluarga yang mampu menciptakan memori lebih kuat dibanding sekadar berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.
Sehingga dia menilai destinasi wisata tidak perlu berlomba menjadi seperti mal atau kafe. Justru yang harus ditonjolkan adalah pengalaman unik yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. “Bukan lagi datang ke suatu tempat, tapi membeli pengalaman,” ungkapnya.
Perubahan pola pikir tersebut juga membuat pelaku wisata mulai mencari berbagai aktivitas baru untuk menambah nilai kunjungan, mulai dari kegiatan berbasis komunitas hingga pengalaman tematik yang melibatkan pengunjung secara langsung.
Menurut Saddam, semakin banyak cerita yang bisa dibawa pulang wisatawan, semakin besar pula peluang mereka untuk kembali berkunjung di kemudian hari. (*)
Editor : Ismet Rifani