Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Gejolak Global Belum Mereda, BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Dunia Mentok di Angka 3 Persen

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 23 Juni 2026 | 16:34 WIB
PROSPEK: BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia tertahan di level 3 persen.
PROSPEK: BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia tertahan di level 3 persen.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih menjadi tantangan besar sepanjang 2026. Konflik geopolitik yang berlanjut di sejumlah kawasan dunia hingga potensi gangguan jalur perdagangan strategis diprediksi menahan laju pertumbuhan ekonomi global.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga minyak dan komoditas dunia sekaligus mengganggu rantai pasok global.

“Berdasarkan asesmen Bank Indonesia, eskalasi konflik di beberapa kawasan, termasuk gangguan pada jalur perdagangan strategis, berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas global, mengganggu rantai pasok, serta menahan prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada kisaran sekitar 3,0 persen,” ujarnya, Selasa (23/6).

Baca Juga: Rebutan Lahan Parkir di Samarinda, Mantan Napi Ini Tembak Tetangga Pakai Senapan Angin

Di sisi lain, tekanan inflasi global yang masih persisten membuat arah kebijakan moneter sejumlah negara maju tetap ketat. Suku bunga kebijakan Amerika Serikat diperkirakan bertahan tinggi hingga akhir 2026, disertai yield US Treasury dan indeks dolar AS yang masih kuat.

Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven. Dampaknya, volatilitas aliran modal dan pergerakan nilai tukar di negara berkembang berpotensi meningkat.

Jajang menuturkan, pertumbuhan ekonomi dunia juga masih menunjukkan perbedaan antarnegara. Amerika Serikat diperkirakan relatif lebih kuat karena ditopang stimulus fiskal dan investasi, termasuk pada sektor teknologi dan artificial intelligence (AI).

Sebaliknya, ekonomi Eropa dan Jepang diprakirakan melambat akibat lemahnya ekspor dan belum kuatnya permintaan domestik. Sementara Tiongkok masih berada dalam tren moderasi, sedangkan India diperkirakan tetap tumbuh tinggi meski lajunya lebih moderat.

Baca Juga: Kabar Gembira untuk Daerah! Dana Transfer 2027 Diproyeksikan Naik Tajam, Ini Bocoran Purbaya

“Perkembangan tersebut perlu terus dicermati karena berimplikasi pada kinerja perdagangan, arus modal, nilai tukar, dan stabilitas pasar keuangan global, termasuk bagi negara berkembang seperti Indonesia,” katanya.

Menurut dia, berbagai dinamika tersebut menjadi faktor penting yang perlu diantisipasi agar dampaknya terhadap perekonomian nasional dapat diminimalkan, terutama melalui penguatan stabilitas ekonomi dan sektor keuangan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pertumbuhan ekonomi dunia #proyeksi ekonomi BI #dampak ekonomi global ke Indonesia #Bank Indonesia Kaltim