KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kesadaran pengunjung dalam menjaga ruang publik masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola destinasi wisata. Berbagai perilaku yang merugikan lingkungan maupun fasilitas wisata masih kerap ditemukan di lapangan.
Disebutkan Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Samarinda Saddam Husein menyebut persoalan itu bukan semata soal aturan, melainkan menyangkut kebiasaan masyarakat ketika berada di ruang publik.
Dia mengaku pernah menemukan berbagai kejadian yang tak biasa selama mengelola destinasi wisata. Salah satunya pengunjung yang mengganti pakaian di area terbuka dekat kolam karena menganggap hal itu biasa dilakukan di rumah.
Selain itu, masih ada pengunjung yang memetik tanaman hias atau memberi makan satwa dengan makanan yang tidak semestinya meski larangan telah dipasang oleh pengelola.
Baca Juga: Genjot Kepesertaan Jaminan Sosial, Pemkab PPU Dorong CSR Perusahaan Cover BPJS Ketenagakerjaan Warga
“Kalau destinasi mengedepankan flora dan fauna, sudah ada tulisan dilarang memetik atau dilarang memberi makan hewan. Tapi tetap ada yang melakukan,” katanya.
Saddam juga menyoroti kebiasaan sebagian pengunjung yang merasa memiliki hak lebih setelah membeli tiket masuk. “Pengunjung itu ngerasa kalau sudah bayar dia tuh raja,” ucapnya.
Padahal, menurut dia, kenyamanan destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh pengelola, tetapi juga oleh perilaku pengunjung yang menggunakannya secara bersama-sama.
Oleh sebab itu, dia berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga etika di ruang publik, termasuk menghormati aturan yang dibuat untuk melindungi fasilitas, tanaman, maupun satwa di destinasi wisata. “Bagaimana dia behave (berprilaku baik) di public space. Itu yang masih perlu dibiasakan,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo