Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Lompat Lebih Cepat, Pemprov Kaltim Desak Sektor Tambang dan Energi Masifkan Adopsi AI

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 23 Juni 2026 | 19:10 WIB
ADAPTASI: Dunia sedang menghadapi perubahan besar, perkembangan teknologi berlangsung cepat, digitalisasi semakin luas dan kecerdasan buatan mulai masuk ke beberapa sektor industri. INT/KP
ADAPTASI: Dunia sedang menghadapi perubahan besar, perkembangan teknologi berlangsung cepat, digitalisasi semakin luas dan kecerdasan buatan mulai masuk ke beberapa sektor industri. INT/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Gelombang digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan daya saing industri Kaltim dalam beberapa tahun ke depan.

Pemprov Kaltim menilai perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat telah mengubah pola bisnis di sektor energi, pertambangan, konstruksi hingga logistik. Perusahaan yang mampu beradaptasi akan memiliki keunggulan kompetitif lebih besar dibanding pelaku usaha yang masih mengandalkan pola kerja konvensional.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Bambang Arwanto mengatakan dunia sedang menghadapi perubahan besar yang ditandai dengan semakin luasnya digitalisasi dan masuknya teknologi kecerdasan buatan ke berbagai sektor industri.

Baca Juga: Pentingnya Indeks Zakat Nasional Kaltim 2026

"Inovasi adalah kunci. Dunia sedang menghadapi perubahan besar, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, digitalisasi semakin luas, dan kecerdasan buatan mulai masuk ke beberapa sektor industri," katanya.

Menurut Bambang, perubahan tersebut tidak bisa dihindari. Karena itu, pelaku industri di Kaltim harus segera beradaptasi agar tidak tertinggal dalam persaingan global. Pemanfaatan AI dan teknologi digital dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat pengambilan keputusan, mengurangi biaya produksi, meningkatkan keselamatan kerja, hingga mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Bagi sektor pertambangan misalnya, teknologi kecerdasan buatan mulai digunakan untuk analisis data eksplorasi, pemantauan alat berat, prediksi kerusakan peralatan, hingga pengelolaan rantai pasok. Sementara pada sektor energi, digitalisasi memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi distribusi, memonitor konsumsi energi secara real time, serta mengurangi pemborosan biaya operasional.

Baca Juga: Sering Elus Dada, PUTRI Samarinda Sentil Kelakuan Pengunjung yang Suka Tabrak Aturan Wisata

Bambang menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya berbicara mengenai investasi teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia. Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi agenda penting agar masyarakat lokal mampu mengambil peran dalam industri masa depan.

"Daerah yang mampu beradaptasi akan melompat lebih cepat. Sebaliknya yang terlambat bertransformasi akan tertinggal," ujarnya. Ia optimistis Kaltim memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat industri modern di Indonesia karena didukung keberadaan IKN, investasi yang terus tumbuh, serta posisi strategis sebagai gerbang ekonomi Indonesia Timur.

Hal senada juga diungkapkan Pengusaha Afifuddin Suhaili Kalla. Menurutnya digitalisasi menjadi kunci agar industri kecil dan menengah (IKM) bisa terus berkembang. Meski begitu, pengusaha tidak akan mudah melakukan inovasi. Setidaknya ada 4 tantangan yakni pemodalan, riset, akses pasar, dan koneksi. Afi mengatakan sinergi antara dunia akademik dan bisnis, sangat penting untuk mewujudkan IKM.

"Kita harus membahas bagaimana pentingnya pengembangan industri kecil dan menengah untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kita harus mampu melahirkan inovasi yang mendorong hilirisasi agar ekonomi kita semakin kuat dan mandiri,” tandas Afi. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#hilirisasi industri Kaltim #Digitalisasi industri Kaltim #teknologi AI pertambangan #dampak IKN ke ekonomi #efisiensi sektor energi