KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN —Mengemas kuliner laut khas daerah menjadi buah tangan yang awet tanpa merusak cita rasa autentiknya sering kali menemui jalan buntu. Namun, tantangan berat itu berhasil ditaklukkan oleh Kampoeng Timoer, brand oleh-oleh nomor wahid asal Balikpapan, Kalimantan Timur.
Berdiri sejak 21 Desember 2012 di bawah naungan CV Azra Sentosa Jaya, usaha yang dirintis oleh Woro Sumarsono selaku CEO ini kini telah menginjak usia kurang lebih 13 tahun. Berawal dari sebuah industri rumahan di kawasan Kampung Timur yang kemudian diabadikan menjadi nama brand, kini Kampoeng Timoer berubah jadi salah satu raksasa UMKM yang sukses membawa cita rasa lokal ke panggung dunia.
Produk unggulan dari Kampoeng Timoer adalah Peyek Kepiting, abon rajungan dan amplang kepiting. Tidak berhenti di sana, inovasi produk terus berkembang di mana Woro menangkap peluang dari keresahan para wisatawan yang sering kali kecewa ketika membawa makanan siap saji dari restoran terkenal di Balikpapan karena rasanya berubah akibat perjalanan jauh.
Baca Juga: Lompat Lebih Cepat, Pemprov Kaltim Desak Sektor Tambang dan Energi Masifkan Adopsi AI
Dari sanalah lahir produk olahan basah siap saji seperti Kepiting Lada Hitam dan Kepiting Saos Manis yang mampu bertahan hingga 2-3 bulan tanpa mengubah rasa sedikit pun. "Masalah rasa itu tidak berubah dan syukur bisa diterima oleh konsumen dan pasar," ujar Woro saat ditemui, Senin (22/6).
Untuk menjaga stabilitas produksi berskala besar, Kampoeng Timoer telah membangun jaringan pasokan bahan baku yang kuat. Dalam sebulan, produksi mereka mampu menyerap sekitar 12 hingga 15 kuintal pasokan kepiting.
Woro mengaku tidak pernah mengalami kesulitan bahan baku karena memiliki strategi multi supplier lintas pulau dan dalam seminggu pasokan kepiting segar dikirimkan sebanyak tiga kali dari masing-masing supplier. "Untuk pasokan bahan baku khususnya kepiting kita punya tiga supplier. Kalau di Balikpapan tidak ada, kita ambil di Tarakan, kalau keduanya tidak ada kita ambil dari Surabaya," jelasnya.
Menariknya, Kampoeng Timoer memilih strategi bisnis yang unik dengan tidak membuka cabang toko sendiri di wilayah Balikpapan. Alih-alih berkompetisi mendirikan toko fisik, mereka memosisikan diri sebagai pusat produksi dan distribusi utama.
Baca Juga: Pentingnya Indeks Zakat Nasional Kaltim 2026
Produk Kampoeng Timoer didistribusikan secara masif ke seluruh ekosistem pariwisata dan ritel di Balikpapan, seperti Maxi, Alfamidi dan Indomaret, juga seluruh toko oleh-oleh dan fasilitas pemerintah seperti Galeri UMKM, Galeri Dekranas, hingga berbagai hotel berbintang.
Keberhasilan Kampoeng Timoer mempertahankan eksistensinya selama lebih dari satu dekade tidak lepas dari keberanian mereka melakukan digitalisasi dan ekspansi pasar. Setelah mendapatkan pelatihan ekspor dari Kementerian Perdagangan, Kampoeng Timoer resmi melakukan ekspor perdana pada tahun 2021 ke Malaysia melalui skema business matching.
Kini, pasar Kampoeng Timoer tidak lagi sebatas lokal Kalimantan, melainkan sudah berskala nasional dan internasional. Produk peyek kepiting mereka telah masuk ke berbagai negara seperti Malaysia, Taiwan, Singapura, hingga Australia.
Selain pasar ekspor konvensional, Woro juga memanfaatkan marketplace digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk menjangkau konsumen di seluruh pelosok Indonesia. Bagi Woro, menghadapi kompetitor di era digital bukanlah tentang menjatuhkan harga, melainkan memperkuat karakter produk.
"Kalau kompetitor, jelas semua produk oleh-oleh dari seller lain saya anggap kompetitor. Tinggal bagaimana kita bisa bertahan dengan mengedepankan produk. Saya punya suatu pembeda di antara produk yang ada. Bisnis jika tidak ada diferensiasinya, tidak akan bertahan lama. Bangun sistemnya," pungkas Woro. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo