KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Bagi seorang pelaku usaha, keberanian mengambil risiko jadi kunci kesuksesan usaha. Namun, ketika ekspansi besar-besaran yang didanai modal pinjaman langsung berbenturan dengan krisis global tak terduga, taruhannya adalah hidup mati perusahaan.
Pengalaman dramatis inilah yang dialami oleh Woro Sumarsono, CEO Kampoeng Timoer, brand oleh-oleh Nomor 1 asal Balikpapan. Demi mengejar pertumbuhan bisnis yang agresif, ia sempat berada di titik hampir tutup sebelum akhirnya berhasil membalikkan keadaan.
Kisah ini bermula pada pertengahan 2019. Melihat tren pertumbuhan bisnis oleh-oleh yang positif dan pasar yang terus berkembang, Kampoeng Timoer berniat mencari tambahan modal kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi secara masif.
Baca Juga: Nikah Gratis di MPP Samarinda Kembali Dibuka, Pemkot Siapkan Fasilitas untuk Warga
Woro mulai mencari tambahan modal melalui pinjaman bank dan melihat profil bisnis Kampoeng Timoer yang sehat, perbankan di Balikpapan pun berbondong-bondong datang menawarkan fasilitas kredit. Alih-alih memilih salah satu, Woro mengambil keputusan berani dengan mengambil semua pinjaman yang ditawarkan.
"Kita coba cari tambahan modal dengan menghubungi bank-bank yang ada di Balikpapan, semua bank datang menawarkan program pinjamannya dan akhirnya saya pinjam semua, itu sekitar pertengahan tahun 2019," kenang Woro saat ditemu Kaltim Post, Senin (22/6).
Keputusan mengambil modal besar yang semula diproyeksikan untuk lompatan bisnis, seketika berubah menjadi bumerang. Memasuki awal tahun 2020, pandemi Covid-19 melanda. Kebijakan pembatasan sosial dan lockdown total diterapkan, membuat arus pariwisata dan kunjungan ke Kota Balikpapan lumpuh seketika.
Sebagai bisnis yang sangat bergantung pada pergerakan kunjungan wisatawan, Kampoeng Timoer terpukul hebat. Trafik konsumen hilang total, penjualan mati, sementara tagihan utang bank menumpuk.
"Kemudian muncul Covid, lockdown itu tidak ada traffic yang masuk, penjualan mati dan hutang menumpuk," ungkap Woro gamblang mengenai masa-masa sulit tersebut.
Di tengah impitan utang dan penjualan yang anjlok drastis hingga lebih dari 70 persen, Woro dipaksa memutar otak agar bisnisnya tidak gulung tikar. Sadar bahwa ruang gerak fisik dibatasi, ia langsung mengalihkan penjualan bisnis ke arah digital dan memperkuat penetrasi ke jaringan ritel modern seperti Shopee dan Lazada.
Kunci penyelamatan Kampoeng Timoer saat itu adalah ketangkasan membaca algoritma digital. Woro fokus memperbaiki visibilitas dan rating produknya di internet agar mudah ditemukan konsumen yang sedang di rumah saja.
"Akhirnya saya berpikir, ketika semua orang di rumah, jadi saya coba buka penjualan online. Kuncinya kita harus bisa melek teknologi, memperbaiki rating, agar ketika orang-orang cari produk kita yang pertama kali muncul. Jadi saya rasa itu adalah salah satu diferensiasi yang kita punya," jelasnya.
Setelah terseok-seok melewati masa kritis pandemi dengan penjualan online, titik balik kebangkitan Kampoeng Timoer akhirnya tiba. Pemulihan ekonomi melesat cepat ketika Balikpapan mulai dipercaya menjadi tuan rumah berbagai event akbar berskala nasional.
Pelaksanaan acara-acara besar seperti Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), ulang tahun Dekranas dan berbagai pameran nasional lainnya menjadi keran pembuka datangnya kembali arus wisatawan secara masif. Lonjakan kunjungan ini langsung diserap oleh produk-produk Kampoeng Timoer yang sudah siap di berbagai gerai ritel dan bandara.
"Puncaknya, dalam rangka recovery itu, untungnya Balikpapan ditunjuk sebagai tempat event nasional seperti Apeksi, ulang tahun Dekranas dan event-event lainnya, akhirnya bisa recovery total. Ketika omzet turun lebih dari 70 persen, akhirnya bisa kembali 100 persen," Jelas Woro menambahkan.
Dari situ, Kampoeng Timoer coba terus beradaptasi dengan kondisi yang ada dan mencoba memperbaiki keadaan hingga bisa sampai sekarang, menjadi tempat oleh-oleh nomor 1 se-Kota Balikpapan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo