KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pencatatan transaksi secara manual masih menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi tersebut ditemukan tim mahasiswa penerima Beasiswa Bakti BCA Universitas Mulawarman saat melakukan pendampingan kepada UMKM Rujak Cocolan Unae di Samarinda.
Selama hampir dua bulan pendampingan sejak April 2026, delapan mahasiswa mengembangkan sistem berbasis website yang terintegrasi untuk mendukung operasional sembilan cabang usaha milik Rujak Cocolan Unae.
Ketua Tim Pendampingan, Muhammad Fachri, menjelaskan bahwa pemilihan UMKM tersebut didasarkan pada kebutuhan nyata di lapangan. Meski telah berkembang dengan sejumlah cabang, sistem pengelolaan transaksi masih dilakukan secara manual menggunakan nota.
Baca Juga: RDTR Sendawar Tengah Masuk Tahap Krusial, Investasi Jadi Fokus
“Setelah kami melakukan wawancara, ternyata sistem di belakangnya masih ada yang perlu diperbaiki. Salah satunya, setiap transaksi masih dicatat secara manual di nota,” ujar mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman itu.
Melalui sistem yang dikembangkan, pegawai kini dapat langsung memasukkan data transaksi ke dalam website. Setelah transaksi diinput, struk pelanggan dapat dicetak secara otomatis dan data penjualan langsung terhubung ke pemilik usaha tanpa perlu proses pencatatan ulang.
“Ketika ada pelanggan, pegawai tinggal menginput transaksi melalui website. Setelah itu struk langsung tercetak dan data penjualan otomatis masuk ke sistem yang bisa dipantau pemilik usaha,” jelas Fachri.
Tak hanya mendukung proses transaksi, website tersebut juga dilengkapi katalog produk yang memuat informasi menu, lokasi cabang, kontak usaha, hingga akses ke platform pemesanan yang digunakan pelanggan.
Implementasi sistem digital tersebut baru mulai diterapkan dalam beberapa hari terakhir. Untuk memastikan proses adaptasi berjalan lancar, tim mahasiswa turut mendampingi pegawai di sejumlah cabang agar memahami cara penggunaan sistem secara menyeluruh.
“Setelah sosialisasi, kami langsung mendampingi mereka saat menginput data dan memastikan seluruh pegawai benar-benar memahami cara penggunaannya,” katanya.
Menurut Fachri, sistem terintegrasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional usaha sekaligus menjadi solusi yang dapat diterapkan oleh UMKM lain yang masih menghadapi kendala serupa dalam pengelolaan transaksi.
Selain itu, digitalisasi pencatatan dinilai mampu meminimalkan potensi kesalahan maupun penyimpangan dalam pengelolaan keuangan usaha.
“Sistem manual berpotensi menimbulkan celah dalam pencatatan keuangan. Dengan sistem digital yang terintegrasi, seluruh transaksi tercatat lebih transparan dan dapat dipantau secara langsung oleh pemilik usaha,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi