KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Laju inflasi Kalimantan Timur pada 2026 diperkirakan tetap terkendali dalam rentang sasaran nasional.
Namun, tekanan harga diproyeksikan sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan mobilitas penduduk di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Baca Juga: Kalimantan Jadi Pasar Strategis Daihatsu Setelah DKI dan Sumatera
Kenaikan inflasi terutama berasal dari kelompok inti (core inflation) dan sejumlah komoditas pangan strategis yang perlu terus diwaspadai.
“Seiring kenaikan harga emas perhiasan di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan tren penguatan harga emas dunia,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan.
Selain emas, kelompok volatile food juga diperkirakan memberikan tekanan terhadap inflasi daerah. Komoditas seperti beras, bawang merah, dan cabai masih rentan mengalami fluktuasi akibat faktor cuaca dan dinamika pasokan.
Baca Juga: Polisi Musnahkan Puluhan Gram Sabu dari Lima Kasus Narkotika
Meningkatnya aktivitas ekonomi di sekitar IKN juga diperkirakan turut mendorong kebutuhan pangan masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan sejumlah bahan pokok strategis.
Di sisi lain, kelompok administered prices juga berpeluang mengalami tekanan. Pergerakan harga energi global, kebijakan harga komoditas tertentu, hingga biaya transportasi yang dipengaruhi harga avtur menjadi faktor yang perlu dicermati.
Baca Juga: Komisi III DPRD Balikpapan Minta Bank Sampah Aktif Kembali, Ternyata Banyak yang Begini Kondisinya
Namun, sejumlah faktor diyakini mampu meredam tekanan inflasi. Peningkatan produksi pangan, optimalisasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta penguatan cadangan pangan daerah diperkirakan membantu menjaga harga tetap terkendali. (*)
Editor : Dwi Restu A