KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pemerintah daerah diminta untuk lebih berani dalam melakukan transisi energi. Sebab upaya ini bukan sebatas mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi membuka peluang lahirnya green jobs atau pekerjaan hijau di berbagai sektor.
Kaltim dinilai memiliki modal besar untuk menangkap peluang tersebut berkat potensi energi terbarukan dan posisinya sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, pengembangan energi terbarukan di Bumi Etam dinilai belum bergerak secepat potensi yang dimiliki.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau (YMH) Dicky Edwin Hindarto menilai, persoalan utama bukan terletak pada kesiapan daerah atau ketersediaan teknologi, melainkan keberanian untuk memulai perubahan. “Enggak ada yang siap, di Indonesia itu enggak ada yang siap. Tapi harus dimulai. Masalahnya bukan siap enggak siap, tapi mau mulai atau enggak,” ujarnya, Rabu (24/6)
Menurut Dicky, transisi energi bukan lagi pilihan yang bisa ditunda. Dampak perubahan iklim yang semakin nyata membuat setiap daerah harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan beralih menuju sistem energi yang lebih bersih.
“Kalau enggak dilakukan ya sudah, sama-sama nanti kita akan nikmati hasilnya. Bencana iklim itu sudah terjadi dan akan terus bertambah parah,” katanya.
Ia menilai Kaltim sebenarnya memiliki peluang besar dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya energi surya. Letak geografis provinsi ini memungkinkan pemanfaatan panel surya di berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah yang belum terjangkau jaringan listrik secara optimal.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur. Pemahaman masyarakat terhadap ekonomi hijau dan peluang kerja baru juga menjadi faktor penting.
Menurut Dicky, salah satu tantangan terbesar di Kaltim adalah masih terbatasnya informasi mengenai transisi energi dan green jobs. Akibatnya, banyak anak muda belum melihat sektor tersebut sebagai bidang yang memiliki prospek karier maupun peluang usaha.
Baca Juga: Lebih Lapang dan Hangat, Wajah Baru SkyHouse Mercure Samarinda Bikin Betah Nongkrong
“Masalah informasi. Informasi adalah media. Media ya kalian lah yang kemudian jangan terlalu banyak membahas perkara politik saja, tapi juga membahas masalah teknologi hijau, kegiatan hijau, segala macam. Ada banyak contoh yang bisa diangkat,” ujarnya.
Ia menilai berbagai inisiatif yang telah dilakukan di sejumlah daerah di Kaltim sebenarnya layak menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Balikpapan melalui program efisiensi energi di gedung-gedung pemerintah, pemasangan panel surya, hingga pengembangan pengelolaan sampah.
“Balikpapan itu adalah salah satu pemda yang sudah mulai melakukan implementasi. Meskipun kecil-kecil, tapi mereka sudah melakukan efisiensi energi di gedung, mulai coba pasang solar panel dan mereka punya perencanaan. Itu bisa jadi contoh Pemda atau daerah yang lain,” katanya.
Menurut Dicky, pemberitaan mengenai praktik-praktik baik tersebut penting untuk membangun optimisme sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak pelaku ekonomi hijau di Kaltim.
Ia mencontohkan, di berbagai kota besar mulai bermunculan anak-anak muda yang membangun usaha berbasis ekonomi hijau, mulai dari pengelolaan sampah, energi bersih, hingga berbagai inovasi teknologi ramah lingkungan. Tren serupa, menurutnya, juga bisa tumbuh di Kaltim apabila didukung oleh informasi yang memadai.
Dicky menegaskan bahwa percepatan transisi energi membutuhkan keterlibatan banyak pihak, tidak hanya pemerintah dan dunia usaha, tetapi juga media, akademisi, komunitas, serta masyarakat. “Masalahnya bukan siap enggak siap, tapi mulai mau mulai atau enggak,” tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo